{"id":11289,"date":"2023-03-23T10:41:52","date_gmt":"2023-03-23T03:41:52","guid":{"rendered":"https:\/\/tractionenergy.asia\/?p=11289"},"modified":"2023-03-23T10:41:52","modified_gmt":"2023-03-23T03:41:52","slug":"ladang-kentang-di-taman-nasional-kerinci-seblat-punya-siapa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/ladang-kentang-di-taman-nasional-kerinci-seblat-punya-siapa\/","title":{"rendered":"Ladang Kentang di Taman Nasional Kerinci Seblat, Punya Siapa?"},"content":{"rendered":"<p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-11290 aligncenter\" src=\"https:\/\/tractionenergy.asia\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/MONGABAY___1-300x111.jpeg\" alt=\"\" width=\"400\" height=\"148\" \/><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pernahkah berpikir darimana kentang yang Anda makan? Bisa jadi kentang itu berasal dari ladang di<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400;\">Kerinci, Jambi,\u00a0 yang masuk Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).<\/span><\/i><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Belasan tahun lalu orang-orang membabat hutan konservasi, Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) kemudian jadi<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400;\">petakan-petakan kecil untuk ladang sayur. Belakangan, para pemodal ikut ambil bagian dengan menanam \u2018saham\u2019, bahkan mereka punya lahan luas di dalam kawasan hutan.<\/span><\/i><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jambi menunjukkan, produksi kentang di Jambi tahun 2021 mencapai 129.336 ton, terbesar kelima se Indonesia. Lebih dari 94%<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400;\">kentang di Jambi<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400;\">dari ladang di Kerinci. Luas tanaman kentang di Kerinci terus meningkat. Pada 2015 luas 3.345 hektar, naik jadi 4.482 hektar pada 2016, dan 2020 bertambah jadi 5.630 hektar.<\/span><\/i><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0Pemerintah membuka peluang kemitraan konservasi untuk pemulihan ekosistem. Haidir, Kepala Balai Besar TNKS mengatakan, sudah membentuk 193 kelompok tani hutan (KTH)<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400;\">selama periode 2018-2020, dengan luas 5.000 hektar. Baru 38 KTH sampai tahap perjanjian kerja sama (PKS). Sekitar 28 KTH baru diajukan ke tim Satlakwasdal. Sekitar 127 KTH masih menunggu verifikasi.<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400;\">Setidaknya, perlu 4.000 KTH untuk memulihkan area terbuka di TNKS.<\/span><\/i><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belasan tahun lalu orang-orang membabat hutan konservasi, Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) kemudian jadi petakan-petakan kecil untuk ladang sayur. Belakangan, para pemodal ikut ambil bagian dengan menanam \u2018saham\u2019, bahkan mereka punya lahan luas di dalam kawasan hutan.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mongabay<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menelusuri rantai perdagangan kentang di Kecamatan Kayu Aro, Kayu Aro Barat dan Kecamatan Gunung Kerinci dari ladang sayur di dalam kawasan hutan. Perdagangan ini melibatkan banyak orang dari berbagai latarbelakang, mulai petani kecil, tauke kentang, tuan tanah, pengusaha, aparat keamanan hingga pejabat daerah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saban hari belasan hingga puluhan ton kentang dari Kerinci membanjiri pasar-pasar di Kota Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Tangerang hingga Jakarta. Dari sana, kentang itu menyebar ke banyak rumah makan, restoran cepat saji, dan mungkin ada di piring Anda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">***<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebuah rumah makan khas Minang di Kota Jambi,\u00a0 sesak pengunjung. Di sebelah kiri dari pintu masuk rombongan pegawai pemerintah sibuk bersantap siang. Tak jauh dari sana, sekelompok pria duduk menghadap meja penuh lauk sedang membicarakan sesuatu, sesekali mereka tergelak. Saya duduk di samping seorang ibu sedang menyuapi anaknya makan. Seorang pegawai rumah makan menghampiri saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMau dihidang?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIya,\u201d jawab saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekejap bermacam lauk langsung tersaji di meja. Salah satu menu adalah perkedel yang terbuat dari olahan kentang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saban hari, rumah makan ini dan jaringannya bisa menghabiskan belasan kilogram kentang hanya untuk membuat perkedel. Mereka membeli kentang dari pedagang di Pasar Angso Duo, Kota Jambi.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_11294\" aria-describedby=\"caption-attachment-11294\" style=\"width: 428px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\" wp-image-11294\" src=\"https:\/\/tractionenergy.asia\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/mongabay__2-2-300x200.jpeg\" alt=\"\" width=\"428\" height=\"285\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-11294\" class=\"wp-caption-text\">Para pekerja di gudang kentang sebelum distribusi ke berbagai daerah. Foto: Teguh Supriyanto\/ Mongabay Indonesia<\/figcaption><\/figure>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada 15 Maret sore, sebuah truk bermuatan delapan ton sayuran dari Kerinci, masuk Pasar Angso Duo. Puluhan karung kentang seberat 40-45 kilogram diecer ke lapak pedagang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya menemui pria Minang yang tengah santai di sebuah toko kecil di pasar. Orang memanggilnya Uda Heri. Dia salah satu pemasok sayuran ke Pasar Angso Duo dan Talang Banjar. Ada 25-30 pedagang jadi pelanggannya. Setiap hari dia menyuplai 3-4 ton kentang dari Kerinci.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau kentang di Kota Jambi mayoritas dari Kerinci <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">semuo<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Kalau lagi kurang, baru ambil dari Medan,\u201d katanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebutuhan kentang di pasar Kota Jambi ditaksir mencapai 15 ton setiap hari, dipasok dari 4-5 pedagang sayur besar, termasuk Heri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cRumah makan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ngambil<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> kalau harga kentang lagi mahal. Biasanya langsung sekarung, kadang lebih. Kalau harga normal, mereka <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ngambil<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dari pengecer,\u201d katanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Heri tidak mengambil sayuran langsung dari petani di Kerinci, tetapi melalui Andri, tauke sayur di Kersik Tuo, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap hari Andri mengirim 7,5-8 ton sayuran campur ke Pasar Angso Duo. Dia juga menyuplai agen sayur di Pasar Induk Talang Gulo. Dalam seminggu bisa kirim 4-5 kali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jambi menunjukkan, produksi kentang di Jambi tahun 2021 mencapai 129.336 ton, terbesar kelima se Indonesia. Lebih dari 94% kentang di Jambi dari ladang di Kerinci.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Luas tanaman kentang di Kerinci terus meningkat. Pada 2015 luas 3.345 hektar, naik jadi 4.482 hektar pada 2016, dan 2020 bertambah jadi 5.630 hektar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ladang sayur di Kerinci berkembang pesat ketika harga kayu manis ambruk. Mulai 1997 harga kayu manis terjun bebas, semula Rp7.000 per kilogram jadi Rp2.500. Pamor kulit manis Kerinci yang dikenal terbaik di dunia, meredup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak 1940-an hingga 1995,\u00a0 kayu manis Kerinci begitu populer. Saat itu harga satu kilogram kayu manis di pasar lokal setara harga 50 kilogram beras. Sekali panen, warga Kerinci bisa membangun rumah bahkan membeli mobil baru.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hancurnya harga kayu manis membuat ekonomi masyarakat morat-marit. Banyak kebun tidak terurus, sebagian ditebang jadi ladang sayur yang mulai menjanjikan. Sejak itu,\u00a0 perambahan di kawasan taman nasional banyak terjadi.<\/span><\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-11302 aligncenter\" src=\"https:\/\/tractionenergy.asia\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/MONGABAY_____-300x199.jpeg\" alt=\"\" width=\"403\" height=\"267\" \/><\/p>\n<p><b>Penjarahan taman nasional<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u200bAnjing <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">beagle<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dominan hitam menatap tajam penuh waspada. Langkah kakinya tampak gusar. Ia berusaha mendekat. Saya berhenti. Ia juga berhenti. Sesekali gongongan terdengar menyentak, seakan memperingatkan saya untuk tidak mendekat. Seorang pria muncul dari balik gubuk, melihat kami berjalan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami terus berjalan mendekati sungai. Di balik hutan Bukit Mageger nan rimbun, di ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut, suara gergaji mesin terdengar meraung-raung memecah kesunyian. Di pinggiran sungai beberapa tumpukan kayu papan tertutup rumput, seperti sengaja disembunyikan. Saya ingin memotretnya diam-diam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ojo<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> difoto, kita lagi diawasi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">iki,\u201d<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> kata Warto, bukan nama sebenarnya. Seorang tengah mengamati kami dari balik gubuk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tumpukan papan itu sekitar tiga kubik. Sudah sebulan belum juga diangkut. Para pembalak tahu mereka tengah diawasi petugas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Warto cerita, belum lama ini ada pelaku pembalakan liar ditangkap saat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">gesek<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> kayu. Dia minta saya hati-hati karena situasi rawan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami kemudian berjalan sedikit cepat. Jarak beberapa puluh meter ada yang menanyai kami.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSoko ngendi?\u201d<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> tanya pria paruh baya, sambil menyandarkan motor di pinggir jalan setapak. Warto menjelaskan kalau menemai saya dari Jambi. Warto mengenal baik lelaki ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nono, bukan nama sebenarnya, keturunan Jawa kelahiran Sumatera Barat, tinggal di Desa Gunung Labu, Kayu Aro Barat, Kerinci. Lelaki itu masuk kawasan taman nasional untuk menggarap ladang sayur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nono tidak sendirian. Ada dua lelaki lain tengah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ngaso<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, lelah dari pagi mengurus\u00a0 tanaman kentang. Kami ditawari untuk mampir ke pondok dan minum kopi.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLeren disek, ngopi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">,\u201d kata Mimin, bukan nama sebenarnya.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_11306\" aria-describedby=\"caption-attachment-11306\" style=\"width: 400px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-11306\" src=\"https:\/\/tractionenergy.asia\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/mongabay__3-2-300x201.jpeg\" alt=\"\" width=\"400\" height=\"268\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-11306\" class=\"wp-caption-text\">Pemukiman warga di Kayu Aro, Kabupaten Kerinci. Foto: Teguh Supriyanto\/ Mongabay Indonesia<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Cuaca siang itu terasa hangat. Sehari sebelumnya Kayu Aro diguyur hujan seharian. Suhu udara berkisar 18-19 derajat selsius.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya duduk di atas karung berisi serbuk kayu, persis di depan pondok menempel dinding terpal. Kami pun mulai ngobrol. Nono membuat api. Sementara Mimin mengambil beberapa saset kopi dari dalam jok motor. Kemudian pergi mengambil air ke sungai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nono cerita dulu beli ladang dari orang Siulak, luas 10 andong\u2014satu andong setara 20\u00d720 meter. Dia tak berani nebang hutan, takut ditangkap. Hampir rata orang di Kayu Aro beli ladang dari orang Siulak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKita tak berani <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">nebang<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> [hutan], semua [ladang] beli. Punya duit sedikit, ada orang kampung jual, kita beli.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nono bilang, tanah di luar taman nasional mahal. Dia cuma pensiunan karyawan PTPN VI\u2014perusahaan BUMN yang mengelola perkebunan teh Kayu Aro\u2014uang pensiunan hanya Rp100.000 perbulan, tak sanggup kalau beli ladang dekat kampung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Harga tanah satu andong di Kayu Aro, di luar taman nasional antara Rp150-Rp200 juta. Untuk jadi ladang sayur, minimal perlu lahan 10 andong. Hanya para pemodal yang sanggup membelinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nono punya ladang 23 andong di dalam kawasan yang dibeli dari orang Siulak sekitar 2018. Waktu itu harga Rp30 juta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang kampung itu pindah kemana? Nono menunjuk ke arah gubuk dekat sungai tumpukan kayu papan.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_11300\" aria-describedby=\"caption-attachment-11300\" style=\"width: 389px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-11300\" src=\"https:\/\/tractionenergy.asia\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/mogabay__4-1-300x200.jpeg\" alt=\"\" width=\"389\" height=\"259\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-11300\" class=\"wp-caption-text\">Perambahan di Taman Nasional Kerinci Seblat, letaknya di bukit di atas Desa Danau Tinggi, Kecamatan Gunung Kerinci, Kabupaten Kerinci..Foto: Teguh Supriyanto\/ Mongabay Indonesia<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">***<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebuah pondok papan beratap seng tampak mencolok. Ukuran lebih besar dibanding pondok sekitar. Peladang sebut\u00a0 pondok itu milik Suk. Dia asli Siulak, pernah sebagai tenaga bantuan penjaga hutan di Dinas Kehutanan Kerinci .<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekitar 2021 pondok itu pernah digerebek tim gabungan dari Balai Penegakan Gukum (Gakkum) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Tiga mesin penyemprot, kasur dibakar petugas. Suk pergi ke bukit dekat Danau Belibis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suk disebut kuasai lahan puluhan hektar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada 6 Maret 2023,\u00a0 saya mendatangi gudang Suk di Buntu, Desa Kebun Baru, untuk memastikan soal ladang kentang dekat Danau Belibis. Gudang itu tutup. Seorang warga bilang, sulit kalau mau ketemu Suk, karena dia ke gudang tidak menentu. Saya kembali datang besoknya, tidak juga ketemu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya mencoba menghubungi Pur, anggota polhut, sekarang sudah pensiun. Dia saudara Suk. Saya menanyakan nomor Suk yang bisa dihubungi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ndak<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ada, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ndak<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ada. Kami jarang ketemu,\u201d katanya.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_11308\" aria-describedby=\"caption-attachment-11308\" style=\"width: 410px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-11308\" src=\"https:\/\/tractionenergy.asia\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/mongabay__5-300x200.jpeg\" alt=\"\" width=\"410\" height=\"273\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-11308\" class=\"wp-caption-text\">Ladang sayur di dekat Bukit Mageger, di sebelah Gunung Kerinci. Foto: Teguh Supriyanto\/ Mongabay Indonesia<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><strong>Kebun pejabat?<\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awan putih tampak menutupi ujung bukit yang mengelilingi Desa Danau Tinggi, Kecamatan Gunung Kerinci. Orang-orang menyebut tempat itu \u201ctirai embun\u201d. Butuh waktu satu jam setengah perjalanan menggunakan motor dari Desa Kersik Tuo, melewati jalan sempit dan berkelok di kaki bukit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah satu jam perjalanan, kami sampai di jalan berbatu selebar empat meter. Jalan itu dibuka sekitar 2020 menggunakan ekskavator. Diduga banyak orang berduit yang punya ladang dan kebun di atas bukit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKabarnya orang-orang ini iuran sewa eksavator untuk buka jalan,\u201d kata warga yang menemani saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekitar 100-an meter di ujung tanjakan, kami berhenti. Bunyi gergaji mesin terdengar jelas disusul suara pohon tumbang. Sepanjang jalan kami lewati banyak bekas tebangan pohon mengering. Sebagian mulai digarap jadi ladang sayur, kentang, kebun kayu manis dan kopi. Pondok-pondok terlihat sepi, pintu dikunci dari luar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOrang di sini kalau nampak orang baru langsung kabur. Dikira petugas mau nangkap.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak petani kecil dimanfaatkan pemodal untuk menggarap lahan. Mereka dibiarkan menanam sayur tanpa sewa di sela tanaman utama\u2014biasanya kayu manis. Dengan begitu, pemilik lahan tak perlu mengurus dan menjaga kebun. \u201cKalau di sini disebut anak ladang. Jadi susah kalau mau ketemu yang punya langsung.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya ditunjukkan sebuah pondok beratap merah diduga milik aparat. \u201cItu ladang Alti.\u201d Yang dimaksud adalah Alti Irawan, anggota polisi berpangkat Inspektur Polisi Satu (Iptu) yang baru saja dipromosikan sebagai Kapolsek Gunung Kerinci pada 2 Maret 2023.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mantan KBO Shabara Polres Kerinci itu juga disebut punya usaha kayu untuk bahan bangunan di wilayah Siulak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah berjalan beberapa belas menit, kami sampai di pondok yang di kelilingi tanaman kayu manis selengan orang dewasa. Ladang itu tampak terawat. Saya kembali menggunakan aplikasi Gaia GPS. Jika ditarik garis lurus, kebun Alti masuk di dalam kawasan sekitar 500 meter dari batas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami kemudian turun mengikuti jalan mengarah ke perkampungan, dan menemukan sebuah rumah papan bertingkat baru dibangun. Gagang pintu masih terbungkus plastik, seperti baru pasang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di belakang rumah ada dua tandon air, masing-masing berkapasitas 1.000 liter. Rumah ini persis di atas Desa Danau Tinggi, di ketinggian lebih 1.000 meter di atas permukaan laut, berkeliling perbukitan.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_11314\" aria-describedby=\"caption-attachment-11314\" style=\"width: 390px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-11314\" src=\"https:\/\/tractionenergy.asia\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/mongabay__6-2-300x201.jpeg\" alt=\"\" width=\"390\" height=\"261\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-11314\" class=\"wp-caption-text\">Rumah di atas bukit, tak jauh dari kebun kayu manis milik Alfi, di Desa Danau Tinggi, Kecamatan Gunung Kerinci, Kerinci. Foto: Teguh Supriyanto\/ Mongabay Indonesia<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Alti yang saya hubungi via telepon mengakui punya kebun kayu manis delapan hektar di Desa Danau Tinggi. Dia bilang,\u00a0 kebun itu dulu dibeli dari warga, tetapi tidak tahu jika masuk kaman nasional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIya dulu beli sudah lama itu sekitar 7-10 tahun lalu. Waktu saya beli dibilang tidak dalam kawasan. Karena ada kebun yang di atas saya lebih luas, itu tidak masuk kawasan,\u201d katanya, 19 Maret 2023.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya juga menyinggung soal rumah tingkat di atas bukit, Alti buru-buru menutup telepon.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak hanya Alti yang punya ladang\u00a0 atau kebun masuk taman nasional, banyak yang lain, diduga dari politikus,\u00a0 dan lain-lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nurhamidi, Kepala Seksi I TNKS Kerinci Utara tidak berani menyebut pejabat daerah dan aparat ikut terlibat perambahan kawasan hutan. \u201cAda dugaan, tetapi itu sulit dibuktikan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama ini,\u00a0 dia mengaku kesulitan melakukan penegakan hukum, karena banyak informan yang mengawasi pergerakan petugas. \u201cKadang kita masih dalam perjalanan, mereka sudah dapat info duluan. Bahkan, di wilayah tertentu yang susah dijangkau sinyal telepon, mereka menggunakan HT (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">handy talky<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), jadi sudah terkoordinir.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa kelompok peladang yang mayoritas warga lokal pernah melakukan perlawanan. Sekitar 2021, Danuri, anggota Polhut Kerinci Utara yang di-<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">backup<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> 19 anggota masyarakat mitra polhut (MMP) dan kelompok konservasi mandiri (KKM), dicegat ratusan warga saat menangkap empat pelaku pembalakan di Danau Tinggi. Mereka menunggu di ujung jalan, bersenjata parang dan kayu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tukino, anggota KKM yang saat itu ikut rombongan patroli, seketika panik. Dia trauma pernah dikalungin parang warga kampung karena dituduh sebagai mata-mata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOrang itu ratusan, laki-laki perempuan keluar semua di jalan. Orang di Danau Tinggi itu kompak. Berani melawan,\u201d katanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Warga yang ditangkap, akhirnya dilepas. \u201cJalan cuma satu. Daripada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">awak<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (kita) jadi bulan-bulanan, lebih baik cari aman. Kalau waktu itu\u2014pelaku pembalakan\u2014tetap dibawa, pasti bentrok.\u201d<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_11318\" aria-describedby=\"caption-attachment-11318\" style=\"width: 395px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-11318\" src=\"https:\/\/tractionenergy.asia\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/mongabay__7-1-300x200.jpeg\" alt=\"\" width=\"395\" height=\"263\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-11318\" class=\"wp-caption-text\">Ladang warga di dalam taman nasional, tak jauh dari Danau Belibis, di ketinggian 2.000 mdpl. Foto: Teguh Supriyanto\/ Mongabay Indonesia<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>\u00a0\u2018Saham\u2019 tauke kentang<\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Para tauke kentang di desa ikut ambil peran dalam ladang sayur di dalam kawasan. Mereka tak segan menggelontorkan uang ratusan juta buat modal peladang. Orang di Kerinci menyebutnya dengan istilah \u201cnyaham\u201d atau tanam saham.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hermontunis, asal petani Siulak,\u00a0 mengaku dapat pinjaman modal Rp48 juta dari Menteri, tauke kentang di Desa Gunung Labu, untuk menggarap ladang di Bukit Brimbun. \u201cBiasa saya pinjam Rp20-Rp30 juta buat modal, nanti bayar pas panen,\u201d katanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Supri, petani kentang\u00a0 juga kerap datang ke tempat tauke pinjam uang. Dia bilang, itu sudah lumrah, karena untuk menggarap ladang sayur butuh modal cukup besar. Untuk tanam kentang satu andong saja, minimal perlu modal Rp2-Rp3 juta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Iwan Budiono, tauke kentang di Desa Giri Mulyo disebut banyak tanam saham ke petani. \u201cKalau Pak Iwan itu, hampir 70% orang di sini pinjam modalnya sama dia,\u201d ujar Supri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya menemui Iwan di rumahnya di seberang Mesjid Baitul Taufiq. Dia punya usaha toko kelontong paling besar di Giri Mulyo. \u201cKalau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">nyaham<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> tidak banyak, di sini (Giri Mulyo) paling 150-an orang, di Desa Batu Ampar itu ada satu orang, di Tangkil lima orang, Kersik Tuo tiga orang,\u201d katanya sambil menakar gula di timbangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Iwan berani keluarkan duit Rp1-15 juta untuk modali satu petani. Dalam sebulan, tidak kurang dari 100 petani menjual kentang padanya. Saat panen melimpah, gudang kentang Iwan berkapasitas 8.000 karung bisa penuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pria keturunan Jawa itu bukan pemain baru. Dia sudah 20 tahun menggeluti usaha jual beli kentang. Hampir setiap hari mengirim kentang ke Jakarta, Lampung dan Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Sekali kirim rata-rata 7,5 ton.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau dulu orang kenalnya kentang Sumatera Barat, padahal kentang dari sini (Kerinci). Karena yang jualan itu banyak orang Padang, maka yang terkenal kentang Sumbar. Sekarang sudah banyak yang kirim dari sini langsung ke Jakarta.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Giri Mulyo, saya juga ketemu Megri, anak Suyono, tauke kentang lainnya. Dia juga memasok kentang untuk pasar induk di Tangerang, Bukit Tinggi, Pring Sewu dan Palembang. Paling banyak kentang dikirim tujuan Tangerang. Dalam seminggu bisa tiga kali, sekitar 30 ton kentang ukuran jumbo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau daerah lain paling 1-2 kali seminggu baru kirim. Rata-rata 8-10 ton sekali kirim.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Megri bilang bapaknya ikut tanam \u2018saham\u2019. Ada 80-an petani langganan pinjam modal, kisaran Rp2-20 juta. Petani yang terbelit utang menjual kentang padanya, dan harga dibeli lebih murah Rp200 per kilogram.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_11320\" aria-describedby=\"caption-attachment-11320\" style=\"width: 371px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-11320\" src=\"https:\/\/tractionenergy.asia\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/mongabay__8-300x200.jpeg\" alt=\"\" width=\"371\" height=\"247\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-11320\" class=\"wp-caption-text\">Para pekerja di gudang kentang milik tauke di Desa Kebun Baru. Mereka tengah memilah ketang sesuai ukuran sebelum dikirim ke Jakarta. Foto: Teguh Supriyanto\/ Mongabay Indonesia<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Jalifi, lebih dikenal dengan panggilan Pak Yoga, tauke kentang di Desa Kebun Baru. Dia pemilik SPBU di Desa Bengkolan Dua, Kecamatan Gunung .<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jalifi, terhitung pemain besar. Setiap hari dia memasok kentang tujuan Jakarta. \u201cKalau barang lagi banyak sehari bisa tiga mobil\u2014rata-rata muatan 9 ton,\u201d kata Agus, keponakan Jalifi yang dipercaya menjaga gudang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kentang yang dikirim ke Jakarta hanya ukuran jumbo\u2014satu kilogran berisi 2-3 butir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kentang ukuran medium untuk campuran rendang dikirim ke Palembang. Jalifi juga memasok kentang ke Lampung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pengusaha asal Sungai Pegeh itu punya puluhan hektar ladang kentang yang sebagian digarap petani kecil. Hasil panen dibagi dua. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTampang<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> [bibit kentang] dan pupuk dari kita. Orang yang garap modal obat, nanti jual ke sini.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak hanya jual beli kentang, Direktur PT. Pangeran Muda Kerinci itu juga menyebar \u2018saham\u2019 kepada ratusan petani di Desa Kebun Baru, Sungai Lintang, Bentuk dan Buntu. Modal yang diberikan bisa sampai ratusan juta tanpa perlu jaminan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">nyaham<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sampai ratusan juta itu untuk petani mandiri, yang lahannya sudah hektaran,\u201d jelas Agus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada juga Haji Gono, dikenal sebagai tuan tanah di Buntu. Dia punya banyak gudang kentang. Waktu saya temui, pria yang bernama asli Sugiono itu sedang sibuk malayani pembeli kentang dari Bukit Tinggi dan Batu Sangkar, Sumatera Barat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap hari pedagang dari Sumatera Barat datang membeli kentang. \u201cSehari paling satu oto (mobil), 7,5 ton,\u201d katanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gono ikut tanam \u2018nyaham\u2019 kepada petani di Buntu. \u201cSedikit, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">nggak<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sampai ratusan, paling cuma 30-an orang,\u201d kata pria keturunan Ponorogo itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biasa petani pinjam modal untuk beli pupuk, rata-rata Rp 4-5 juta. Meski <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">nyaham<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, dia tidak memotong harga kentang. \u201cKalau dipotong lagi kasihan, orang itu juga butuh hidup.\u201d<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_11322\" aria-describedby=\"caption-attachment-11322\" style=\"width: 433px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-11322\" src=\"https:\/\/tractionenergy.asia\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/mongabay__9-300x199.jpeg\" alt=\"\" width=\"433\" height=\"287\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-11322\" class=\"wp-caption-text\">Petani kentang di kaki Gunung Kerinci. Foto: Teguh Supriyanto\/ Mongabay Indonesia<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><strong>Bangun kemitraan<\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada 2004, Komite Warisan Dunia menetapkan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) bersama Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) dan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) sebagai situs warisan dunia (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">world heritage<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">TNKS merupakan kawasan hutan hujan tropis penting dunia yang terletak di rangkaian pegunungan bukit barisan selatan bagian tengah. Terhampar di empat provinsi, mulai dari Bengkulu, Jambi, Sumatera Barat dan Sumatera Selatan. Luasnya mencapai 1,38 juta hektar. Ia menjadi taman nasional terluas kedua di Indonesia setelah TN Lorentz di Papua.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hutan TNKS menjadi habitat bagi sejumlah populasi satwa langka dan dilindungi seperti harimau Sumatera, gajah Sumatera, badak Sumatera, sampai kijang Sumatera\u2014baru diketahui 2007. Juga lebih 372 jenis burung, 16 endemik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di TNKS terdapat sekitar 4.000 jenis tumbuhan, 60% hidup di hutan dataran rendah. Di sini juga habitat alami bagi 300 jenis anggrek. Flora eksotis TNKS yang paling menarik adalah bunga terbesar di dunia, padma raksasa (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Rafflesia arnorldii<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) dan bunga tertinggi di dunia, bunga bangkai raksasa (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Amorphophallus titanum<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada 22 Juni 2011, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">World Heritage Committee<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Unesco memasukkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">tropical rainforest heritage of Sumatera ini<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (TNKS, TNBBS dan TNGL) sebagai situs warisan dunia dengan status <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">indangered<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (terancam) karena masif perambahan, pembalakan liar dan ekspansi perkebunan monokultur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hampir separuh hutan di Gunung Kerinci tersingkap. Kebun sayur terus menangkak naik hingga ketinggian 2.300 meter di atas permukaan laut. Data Balai Besar TNKS menyebut, luas area terbuka mencapai 127.000 hektar. Data Tropenbos International Indonesia bersama Unesco (2015) menunjukkan angka lebih besar, sekitar 130.322 hektar, hampir dua kali luas Singapura.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_11328\" aria-describedby=\"caption-attachment-11328\" style=\"width: 407px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-11328\" src=\"https:\/\/tractionenergy.asia\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/mongabay__10-2-300x200.jpeg\" alt=\"\" width=\"407\" height=\"271\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-11328\" class=\"wp-caption-text\">Ladang warga di dalam taman nasional, tak jauh dari Danau Belibis, di ketinggian 2.000 mdpl. Foto: Teguh Supriyanto\/ Mongabay Indonesia<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sukmareni, Koordinator Devisi Komunikasi KKI Warsi\u2014sebuah lembaga non profit yang melakukan pendampingan masyarakat di dalam dan sekitar hutan\u2014mengatakan, hutan di TNKS harus dijaga. Mengingat geografis berupa pegunungan dan perbukitan. Hal itu, katanya,\u00a0 untuk menjaga wilayah sekitar taman nasional tetap aman dari bencana ekologis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKayu Aro itu meski dataran tinggi, tapi pernah diterjang banjir bandang. Itu terjadi juga di tempat lain,\u201d katanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sistem pertanian monokultur di Kerinci bisa cepat merusak tanah. \u201cKalau gundul tidak ada hutan, akhirnya terjadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">runoff<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang akan sangat cepat mengikis hara. Tanah jadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">nggak<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> subur. Yang awalnya kita ingin sejahtera justru malah sebaliknya.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemerintah, katanya,\u00a0 perlu megedukasi masyarakat untuk memahami kondisi wilayah hingga tak hanya fokus peningkatan ekonomi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk mengatasi masalah keterlanjuran pembukaan lahan di dalam kawasan, kata Reni, pemerintah membuka peluang kemitraan konservasi untuk pemulihan ekosistem melalui UU Cipta Kerja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Haidir, Kepala Balai Besar TNKS mengatakan, sudah membentuk 193 kelompok tani hutan (KTH) selama periode 2018-2020, dengan luas 5.000 hektar. Baru 38 KTH sampai tahap perjanjian kerja sama (PKS). Sekitar 28 KTH baru diajukan ke tim Satlakwasdal. Sekitar 127 KTH masih menunggu verifikasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Haidir menghitung, perlu 4.000 KTH untuk memulihan area terbuka di TNKS.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Petani yang masuk anggota KTH harus sepakat tidak memperluas ladang. Mereka hanya boleh membuka ladang maksimal lima hektar. Haidir bilang, kelompok KTH akan jadi pagar sosial untuk mengamankan 1,2 juta hektar hutan tersisa. Mereka legal mengelola lahan di dalam kawasan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSemua yang sudah menjadi anggota KTH itu legal mengelola garapan di dalam kawasan. Dia punya hak mengelola berdasarkan perjanjian dengan taman nasional.\u201d<\/span><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-11334 aligncenter\" src=\"https:\/\/tractionenergy.asia\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/mongabay__11-2-120x300.jpeg\" alt=\"\" width=\"180\" height=\"450\" \/><\/p>\n<p><strong>Kami ingin hidup<\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada 2009, Hermontunis ditangkap saat sedang sarapan di ladang.\u00a0 Dia digelandang ke Sungai Penuh karena merambah kawasan hutan di sekitar Danau Belibis. Seingatnya, ada 14 orang ditangkap.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDitanya kau kasus apa? <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Nyenso<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, kau kasus apa? Buka ladang. Yang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">nyenso<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dihukum lebih lama, sampai dua tahun,\u201d katanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hermon kena tahan enam bulan. Dia bebas setelah dapat jaminan dari Murasman, saat itu Bupati Kerinci. Hermon sepupu Murasman dari garis bapak. \u201cKata Murasman, yang penting kau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">nggak<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> maling, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">nggak<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400;\">nyenso.\u201d<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah bebas dia merantau ke Solok Selatan, Sumatera Barat. Pada 2020, Hermon kembali dan menggarap lahan yang dibuka bapaknya 2008 di Bukit Brimbun\u2014masih dalam kawasan taman nasional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSaya masuk, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">kok<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> di sini sudah ramai, jadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">nggak<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> takut lagi. Kalau ditangkap, semua ditangkap.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pria asal Siulak itu mengaku trauma kalau melihat petugas. \u201cSekarang kalau lihat petugas, entah mau data atau mau apa, saya lari, takut.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada lebih 400 peladang di tiga blok dekat Danau Belibis belum masuk KTH: blok Sukeimi, Teguh dan Hermontunis. Mereka warga Desa Siulak, Bendung Air, Sungai Tanduk, Batu Hampar, Gunung Labu hingga Pelompek.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKarena orangnya tidak satu desa itu susah masuk KTH. Sebetulnya ya mau masuk, misal disuruh tanam pohon apa, kita mau. Asal tidak ditangkap,\u201d kata Hermon.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lahan yang dibuka Hermon di Danau Belibis ternyata sudah dijual pada Nono, petani yang saya temui di pondok Mimin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nono bilang, niatnya beli ladang buat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">nyambung<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> hidup, karena tidak tahu lagi mau kerja apa selain bertani.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau tak bertani, mau kerja apa?\u201d kata Nono, dalam bahasa Jawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau sudah tua seperti kita, mau kerja di perusahaan ya tidak diterima,\u201d sambung Mimin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika ditanya ladang yang digarap masuk kawasan hutan negara, bagaimana kalau ditangkap?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nono langsung lesu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHasil ladang hanya sedikit buat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">nyambung<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> hidup, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">masak<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> mau ditangkap. Orang kecil juga kepingin hidup,\u201d\u00a0 katanya.<\/span><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-11336 aligncenter\" src=\"https:\/\/tractionenergy.asia\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/mongabay__12-300x199.jpeg\" alt=\"\" width=\"356\" height=\"236\" \/><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-11340 aligncenter\" src=\"https:\/\/tractionenergy.asia\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/mongabay__13-1-300x199.jpeg\" alt=\"\" width=\"357\" height=\"237\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">*Liputan ini merupakan Fellowship Akademi Jurnalis dan Lingkungan yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia bekerjasama dengan Traction Energy Asia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artikel ini telah tayang di mongabay.co.id dengan judul: \u201c<a href=\"https:\/\/www.mongabay.co.id\/2023\/03\/23\/ladang-kentang-di-taman-nasional-kerinci-seblat-punya-siapa\/\">Ladang Kentang di Taman Nasional Kerinci Seblat, Punya Siapa?<\/a>\u201d <\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pernahkah berpikir darimana kentang yang Anda makan? Bisa jadi kentang itu berasal dari ladang di Kerinci, Jambi,\u00a0 yang masuk Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Belasan tahun lalu orang-orang membabat hutan konservasi, Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) kemudian jadi petakan-petakan kecil untuk ladang sayur. Belakangan, para pemodal ikut ambil bagian dengan menanam \u2018saham\u2019, bahkan mereka punya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":15,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[],"tags":[],"class_list":["post-11289","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry"],"acf":[],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11289","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/15"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11289"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11289\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11289"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11289"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11289"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}