{"id":11237,"date":"2023-03-07T11:31:07","date_gmt":"2023-03-07T04:31:07","guid":{"rendered":"https:\/\/tractionenergy.asia\/?p=11237"},"modified":"2025-04-17T04:47:19","modified_gmt":"2025-04-17T04:47:19","slug":"3-langkah-agar-biodiesel-indonesia-lebih-ramah-lingkungan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/3-langkah-agar-biodiesel-indonesia-lebih-ramah-lingkungan\/","title":{"rendered":"3 Langkah Agar Biodiesel Indonesia Lebih Ramah Lingkungan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Indonesia menaikkan penggunaan campuran <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">bahan bakar nabati (BBN) dari 30% ke 35%<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> dari minyak sawit dalam satu liter solar (B35) per awal Februari silam. Rencananya, pemerintah akan menaikkan lagi kewajiban pencampuran BBN menjadi 40% per liter solar (B40) pada tahun ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain menghemat impor solar, pencampuran BBN juga penting untuk meredam emisi gas rumah kaca. Namun, Indonesia harus mengantisipasi program tersebut agar tak merusak lingkungan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Studi mencatat hampir 83% &#8211; 95% emisi<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> dihasilkan dari proses budidaya dan proses pemanenan kelapa sawit. Penggunaan dan pembukaan lahan juga berisiko menambah <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">kehilangan hutan<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> yang sudah mencapai 9,95 juta hektare selama kurun waktu 2002-2021, atau setara 11% dari total luas hutan alami Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemerintah juga harus menyikapi serius situasi produsen sawit yang <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">mengingkari komitmen anti-deforestasi.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> Jika tidak diiringi langkah pencegahan, pelaksanaan B40 ataupun B100 bisa membuat deforestasi meluas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena itu, sebagai peneliti pembangunan berkelanjutan, kami menyoroti tiga langkah agar Indonesia dapat meningkatkan pemakaian biodieselnya tanpa merusak lingkungan lebih lanjut.<\/span><\/p>\n<ol>\n<li><strong> Tingkatkan keterlacakan produk sawit<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keterlacakan atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">tracebility<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> rantai pasokan merupakan salah satu syarat produsen memperoleh sertifikasi produk sawit ramah lingkungan. Melalui keterlacakan, publik dapat mengetahui sejauh mana produsen memakai bahan mentah (tandan buah segar sawit) yang ditanam ataupun dipanen dengan cara-cara ramah lingkungan dan bertanggung jawab secara sosial.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_11238\" aria-describedby=\"caption-attachment-11238\" style=\"width: 396px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-11238\" src=\"https:\/\/tractionenergy.asia\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/the-conversation-2_Image-2023-07-26-at-11.24.06-300x201.jpeg\" alt=\"\" width=\"396\" height=\"265\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-11238\" class=\"wp-caption-text\">Terdakwa kasus korupsi usaha perkebunan kelapa sawit tanpa izin di Riau, Surya Darmadi, menjalani sidang di Pengadilan. Korupsi turut menjadi isu yang membayangi industri sawit Indonesia. (Reno Esnir\/Antara)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keterlacakan juga bermanfaat bagi pemerintah untuk memastikan proses produksi sawit Indonesia tidak melanggar hukum dan sesuai dengan prinsip keberlanjutan. Produk-produk dengan hasil keterlacakan yang baik dapat meredam sentimen negatif tentang sawit Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">traceability<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> perusahaan pada sektor kelapa sawit di Indonesia sangat sedikit. Hanya <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">9% pabrik minyak sawit<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">4% perkebunan<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> yang transparan seputar rantai pasokan mereka. Padahal, transparansi rantai pasokan sangat membantu pebisnis sawit untuk meredam risiko deforestasi di wilayah kerjanya dan memantau kepatuhan terhadap lingkungan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemerintah Indonesia perlu mengatasi persoalan ini secara bertahap. Pertama, pemerintah perlu memasukkan aspek <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">traceability<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ke dalam sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), yang merupakan standar nasional produksi minyak sawit berkelanjutan. Kebijakan ini diharapkan dapat membuat pelaku perkebunan dan maupun produsen bahan bakar nabati lebih transparan seputar produk mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, Pemerintah perlu menerapkan kebijakan yang dapat menyokong transparansi industri sawit. Salah satu caranya bisa dengan bimbingan seputar transparansi kepada pelaku perkebunan dan pabrik minyak sawit oleh pemerintah kabupaten ataupun provinsi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga, pemerintah perlu mengatur kebijakan penghargaan dan hukuman dalam keseluruhan proses produksi biodiesel. Pemerintah dapat memberikan insentif pajak ataupun bea keluar kepada perusahaan transparan dan hukuman berupa penambahan pajak bagi pihak yang tidak melaksanakannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, pemerintah harus mengampanyekan pentingnya keterlacakan produk sawit dengan cara yang lebih sederhana ke pekebun skala kecil. Keberadaan jejaring informasi di antara koperasi pekebun ataupun penyuluh juga penting untuk mendampingi pekebun kecil dalam melaksanakan praktik perkebunan sawit yang ramah lingkungan.<\/span><\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li><strong> Perkebunan berkelanjutan perlu diterapkan<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Budi daya sawit pada umumnya dilakukan dengan sistem monokultur. Artinya, hanya ada tanaman sawit dalam satu kawasan perkebunan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Praktik tersebut perlu ditinggalkan karena selain boros lahan, praktik monokultur ini juga <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">membahayakan lingkungan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Supaya lebih berkelanjutan, pemerintah dapat menggencarkan kampanye praktik agroforestri dalam perkebunan sawit. Dalam agroforestri, pekebun tak hanya menanam sawit, tapi juga tanaman hutan seperti jengkol, jelutung, ataupun durian yang dianggap bermanfaat.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_11240\" aria-describedby=\"caption-attachment-11240\" style=\"width: 371px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\" wp-image-11240\" src=\"https:\/\/tractionenergy.asia\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/theconversation__2-300x168.jpeg\" alt=\"\" width=\"371\" height=\"208\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-11240\" class=\"wp-caption-text\">Petugas Taman Nasional Bukit Dua Belas sedang mengunjungi kawasan percontohan agroforestri sawit dengan metode jangka benah di Desa Sungai Jernih, Jambi, pada 2022. (Jangkabenah.org)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Agroforestri bermanfaat<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> untuk mengurangi bahaya lingkungan karena bisa meningkatkan keanekaragaman hayati, mengurangi erosi tanah, dan memberikan pendapatan tambahan bagi petani.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemerintah perlu melengkapi kampanye tersebut dengan edukasi praktik perkebunan ramah lingkungan, misalnya pemakaian pupuk organik. Pekebun dapat memakai metode agroekologi, pemanfaatan material yang ada dalam lingkungan tersebut sekitar dalam praktik perkebunan. Contohnya adalah pengomposan untuk membuat pupuk organik dari cangkang, daun, ataupun batang sawit secara langsung di kebun mereka.<\/span><\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li><strong> Perbanyak alternatif minyak sawit<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak dilaksanakan pada 2015, Indonesia tak pernah beranjak untuk memakai bahan bakar nabati selain dari sawit. Situasi ini mesti berubah.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_11242\" aria-describedby=\"caption-attachment-11242\" style=\"width: 356px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\" wp-image-11242\" src=\"https:\/\/tractionenergy.asia\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/the-conversation-3_-Image-2023-07-26-at-11.26.53-300x200.jpeg\" alt=\"\" width=\"356\" height=\"237\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-11242\" class=\"wp-caption-text\">Pengelola Bank Sampah Rosella Siantan Sulvy memperlihatkan dua botol berisi BBM dari hasil daur ulang sampah. (Jessica Helena Wuysang\/Antara)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tanpa pencarian bahan pengganti, kebijakan biodiesel Indonesia akan rawan mengganggu ketahanan pangan karena konsumsi <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">minyak goreng sawit terus meningkat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemerintah harus memulai pemanfaatan bahan baku potensial lainnya seperti <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">minyak jelantah<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> untuk mengurangi ketergantungan terhadap sawit sekaligus meredam limbah rumah tangga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kajian dari Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) bersama Traction Energy Asia mengungkapkan, masyarakat Indonesia menghasilkan sekitar <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">6,46 &#8211; 9,72 juta kiloliter minyak jelantah setiap tahun.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> Jumlah ini sangat banyak, setara dengan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">47 &#8211; 72% kemampuan produksi bahan bakar nabati<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> Indonesia pada 2022.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemerintah daerah perlu membentuk sistem pengelolaan minyak goreng bekas dan pemanfaatannya untuk biodiesel bekerja sama dengan pihak swasta, badan usaha milik negara atau daerah, maupun akademikus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artikel ini telah tayang di theconversation.com dengan judul: \u201c<a href=\"https:\/\/theconversation.com\/3-langkah-agar-biodiesel-indonesia-lebih-ramah-lingkungan-201293\">3 Langkah Agar Biodiesel Indonesia Lebih Ramah Lingkungan<\/a>&#8220;<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Indonesia menaikkan penggunaan campuran bahan bakar nabati (BBN) dari 30% ke 35% dari minyak sawit dalam satu liter solar (B35) per awal Februari silam. Rencananya, pemerintah akan menaikkan lagi kewajiban pencampuran BBN menjadi 40% per liter solar (B40) pada tahun ini. Selain menghemat impor solar, pencampuran BBN juga penting untuk meredam emisi gas rumah kaca. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":15,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[187],"tags":[],"class_list":["post-11237","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized-id"],"acf":[],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11237","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/15"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11237"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11237\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":12729,"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11237\/revisions\/12729"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11237"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11237"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11237"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}