{"id":11231,"date":"2023-01-16T14:32:42","date_gmt":"2023-01-16T07:32:42","guid":{"rendered":"https:\/\/tractionenergy.asia\/?p=11231"},"modified":"2023-01-16T14:32:42","modified_gmt":"2023-01-16T07:32:42","slug":"risiko-defisit-lahan-sawit-di-balik-program-biodisel-b35","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/risiko-defisit-lahan-sawit-di-balik-program-biodisel-b35\/","title":{"rendered":"Risiko Defisit Lahan Sawit di Balik Program Biodisel B35"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_11215\" aria-describedby=\"caption-attachment-11215\" style=\"width: 444px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-11215\" src=\"https:\/\/tractionenergy.asia\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/tirto.id_1-3-300x169.jpeg\" alt=\"\" width=\"444\" height=\"250\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-11215\" class=\"wp-caption-text\">Bahan bakar nabati (Biofuel). FOTO\/Istockphoto<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebutuhan lahan sawit baru tak terelakkan untuk memenuhi defisit CPO akibat kenaikan permintaan biodisel di program B35<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">tirto.id &#8211; Indonesia berupaya menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) dengan menaikkan Nationally Determined Contribution (NDC). Biodisel menjadi salah satu cara mengejar pemangkasan emisi, sembari mendorong pemakaian energi hijau.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada 23 September 2022, pemerintah memperbarui komitmen NDC untuk penurunan GRK di tahun 2030, dengan membidik proporsi pemangkasan emisi sebesar 31,89% dengan kemampuan sendiri dan 43,2% dengan dukungan internasional.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">NDC adalah dokumen yang berisi komitmen dan aksi pencegahan perubahan iklim di tingkat negara yang dikomunikasikan lewat Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Konvensi Dana Perubahan Iklim (United Nations Framework Convention on Climate Change Fund\/UNFCCC).\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terbaru, Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) dalam surat edaran Nomor: 10.E\/EK.05\/DJE\/2022\/ mengumumkan pewajiban campuran bahan bakar nabati (BBN) biodisel di bahan bakar minyak (BBM) solar sebesar 35% (B35) mulai 1 Februari 2023.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSubstitusi BBM ke BBN adalah upaya strategis dalam hal penghematan devisa akibat menurunnya impor minyak solar, peningkatan nilai tambah Crude Palm Oil (CPO), membuka lapangan kerja, sekaligus menurunkan emisi gas rumah kaca dan meningkatkan bauran energi baru terbarukan,\u201d tutur Direktur Bioenergi Edi Wibowo, pada 6 Januari 2023.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Edi memaparkan target penyaluran biodisel di program B35 pada 2023 dipatok sebesar 13,15 juta kiloliter (kL), yang diproyeksi menghemat devisa negara sekitar US$10,75 miliar atau Rp167,7 triliun (asumsi kurs Rp15.600\/US$).\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Program ini juga diharapkan dapat menyerap tenaga kerja sebanyak 1.653.974 orang serta pengurangan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sekitar 34,9 juta ton CO2e (setara karbon dioksida). \u201cDengan implementasi B35 yang akan kita mulai per 1 Februari 2023, sekali lagi Indonesia menjadi yang terdepan dalam pemanfaatan BBN jenis biodisel,\u201d tandas Edi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Klaim Edi tersebut memang benar adanya. Berdasarkan laporan \u201cStatistical Review of World Energy 2022\u201d yang dirilis oleh British Petroleum (BP), Indonesia berada di peringkat ke-3 dunia sebagai negara dengan konsumsi BBN tertinggi ketiga setelah Amerika Serikat (AS) dan Brasil.<\/span><\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-11217 aligncenter\" src=\"https:\/\/tractionenergy.asia\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/tirto.id_2-300x161.jpeg\" alt=\"\" width=\"401\" height=\"215\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Raksasa ekonomi Asia Pasifik, yakni China, masih kalah dengan berada di posisi keempat dunia disusul Jerman dan Prancis. Bahkan gabungan konsumsi BBN China dan Jerman masih lebih rendah dari total konsumsi BBN Indonesia.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Target Biodiesel Nasional\u00a0<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melansir situs EBTKE, sudah hampir 15 tahun negeri ini mengimplementasikan program biodiesel wajib, yang pertama kali diperkenalkan di tahun 2008 dengan kadar campuran biodiesel sebesar 2,5%.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keputusan tersebut dilandasi Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) No.3 Tahun 2008 tentang Penyediaan, Pemanfaatan, dan Tata Niaga BBN sebagai Bahan Bakar Lain. Lalu, keputusan tersebut diperbaharui dengan Peraturan Menteri ESDM No.12 tahun 2015.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada 2010 kadar campuran mulai dinaikkan ke 7,5% lalu ke 10% dan 15% pada 2011 hingga 2015. Selanjutnya per 1 Januari 2016, kadar biodiesel naik ke 20% (B20). Empat tahun setelahnya, yakni 2019, pemerintah menguji coba kadar 30% (B30) dan diberlakukan efektif per 1 Januari 2020.<\/span><\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-11223 aligncenter\" src=\"https:\/\/tractionenergy.asia\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/tirto.id__3-2-169x300.jpeg\" alt=\"\" width=\"208\" height=\"369\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Merujuk ketetapan terbaru ESDM, program wajib biodiesel diterapkan pada usaha mikro, usaha periklanan, usaha pertanian, transportasi dan pelayanan umum\/PSO (public service obligation), transportasi non-PSO, industri dan komersial. Selanjutnya pada 2018, program mandatori B20 dijalankan masif di semua sektor.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Intensifikasi penambahan campuran untuk program wajib biodiesel dijalankan untuk mengejar target peningkatan bauran EBT menjadi 23% di tahun 2025 dari hanya 11% di 2022. Kemudian di 2030 diharapkan Indonesia bisa memproduksi BBN hingga 30 juta kL.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ironisnya, meski sudah berlangsung 1 dekade lebih, program biodisel wajib masih belum cukup membuat kapasitas terpasang BBN di perusahaan lokal terpakai optimal. Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) menjabarkan bahwa kapasitas produksi biofuel per 2022 di kisaran 16,66 juta kL, dan terus meningkat dari tahun ke tahun.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari figur tersebut terlihat bahwa kapasitas produksi biodiesel mengalami peningkatan yang cukup signifikan setelah pemerintah memperbarui ketetapannya dan merilis target konsumsi hampir di seluruh sektor pada tahun 2015.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski demikian, jumlah produksi biodiesel hingga kini tak pernah mampu memaksimalkan kapasitas terpasang yang ada. Terlebih lagi, pemerintah kerap meningkatkan jumlah persentase campuran tetapi total produksi belum dapat menyentuh kapasitas terpasang.<\/span><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-11225 aligncenter\" src=\"https:\/\/tractionenergy.asia\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/tirto__4-300x199.jpeg\" alt=\"\" width=\"383\" height=\"254\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berdasarkan figur di atas, Aprobi mencatat pada Januari hingga November 2022, total produksi biodisel sekitar 10,77 juta kL atau 65% dari total kapasitas produksi di tahun yang sama. Sementara itu, realisasi konsumsi belum sampai 90% dengan penyerapan 9,44 juta kL.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini berarti pada tahun 2022 terjadi penurunan kinerja dari sisi penyerapan konsumsi dibandingkan 2020 dan 2021 yang berada di kisaran 98%.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mantan Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDKS) Dono Boestami menilai tantangan utama program ini terletak di aspek logistik dan infrastruktur, berupa fasilitas penyimpanan yang belum mencukupi, demikian juga fasilitas logistik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian juga terdapat kendala pada kesiapan konsumen terutama di sektor transportasi, sebagaimana dilansir BPDP. Alasan serupa diungkap Ditjen EBTKE terkait keterbatasan fasilitas penyaluran dan kapal pengangkut dengan spesifikasi yang memenuhi syarat. Akibatnya, biaya penyaluran lebih tinggi dari biaya pengangkutan BBM.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tantangan lain adalah program wajib biodisel sangat bergantung pada mekanisme insentif dari pungutan dan bea keluar CPO dan turunannya. Untuk diketahui, jika harga ekspor biodisel lebih rendah dibandingkan harga impor minyak solar, maka tidak ada insentif (selisih kurang Harga Indeks Pasar\/HIP) yang dibayarkan ke pemerintah, dan sebaliknya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Risiko Program Wajib Biodisel\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di lain pihak, beberapa ekonom dan pakar energi menilai pemerintah perlu mengkaji ulang program wajib biodisel B35. Meski menjadi salah satu EBT dengan pasokan tinggi di Indonesia, dampak lingkungan yang ditimbulkan juga patut diwaspadai.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perlu diketahui campuran biodisel memakai produk turunan CPO yakni Fatty Acid Methyl Ester (FAME).\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Manajer Riset Traction Energi Asia Fariz Panghegar menilai emisi biodisel berbasis CPO cukup besar jika memasukkan emisi sejak fase penanaman yakni dari alih fungsi lahan, pembibitan, pemupukan, penggunaan BBM untuk distribusi, hingga penggunaan listrik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Risiko lingkungan selain emisi adalah pembukaan lahan sawit baru untuk memenuhi permintaan biodisel. Pemerintah telah mengantisipasi dengan kebijakan moratorium sawit melalui Inpres No. 8 tahun 2018 tentang Penundaan dan Evaluasi Perizinan Perkebunan Kelapa Sawit serta Peningkatan Produktivitas Perkebunan Kelapa Sawit.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, risiko ekspansi lahan tidak serta-merta hilang, karena kemungkinan terjadinya pelanggaran moratorium, terutama di kalangan petani lokal yang seporadis dan susah terdeteksi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tim peneliti LPEM FEB UI melakukan analisis proyeksi defisit lahan sawit dengan beberapa skenario intensifikasi:\u00a0<\/span><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Jika diterapkan B20 dari 2018-2025<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Jika diterapkan B30 dari 2020-2025\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Jika diterapkan B50 dari 2021-2025\u00a0<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiganya memakai asumsi jumlah lahan sawit produktif berbasis data 2019, yakni 16,36 juta hektare.<\/span><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-11227 aligncenter\" src=\"https:\/\/tractionenergy.asia\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/tirto__5-300x103.jpeg\" alt=\"\" width=\"483\" height=\"166\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengacu pada tabel itu, kebutuhan lahan sawit baru tak terelakkan untuk memenuhi defisit CPO akibat peningkatan permintaan biodisel di program B35. Mempertimbangkan temuan tersebut, maka potensi pembukaan lahan baru sangat mungkin terjadi. Artinya, ada risiko terjadi deforestasi lanjutan jika program ini digencarkan secara total.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemerintah pun didorong mencari alternatif produk campuran selain CPO, yang lebih ramah lingkungan dengan biaya produksi efisien untuk mengatasi persoalan biodisel. Periset Traction Energi Asia merekomendasikan penggunaan minyak jelantah (used cooking oil\/UCO) sebagai pengganti FAME.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut studi mereka, minyak jelantah rumah tangga bisa mencapai 1,2 juta kL\/tahun, atau dekat dengan temuan Badan Pusat Statistik (BPS) sebesar 1,6 juta kL\/tahun. Dari situ bisa dihasilkan 955.000 kl biodisel atau sekitar 10% dari target pengadaan BBN 2022 (yang sebesar 10 juta kL).\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Studi yang sama menemukan minyak jelantah menghasilkan emisi lebih rendah. Dalam skema B30 yang semua bahan bakunya dari CPO, emisi yang ditimbulkan mencapai 70,88 juta ton CO2e. Sementara itu, campuran 10% UCO hanya memicu emisi 69 juta ton CO2e dan menurun ke 48,9 juta ton CO2e.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengacu pada temuan di atas, ada baiknya pemerintah mengkaji ulang program wajib biodisel B35, khususnya di tingkat teknis, agar sesuai dengan daya suplai CPO sehingga tak memicu ekspansi berlebihan perkebunan terutama di tengah moratorium lahan sawit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artikel ini telah tayang di Tirto.id dengan judul: \u201c<a href=\"https:\/\/tirto.id\/risiko-defisit-lahan-sawit-di-balik-program-biodisel-b35-gA86#aoh=16739769535643&amp;csi=0&amp;referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com&amp;amp_tf=From%20%251%24s&amp;ampshare=https%3A%2F%2Ftirto.id%2Frisiko-defisit-lahan-sawit-di-balik-program-biodisel-b35-gA86\">Risiko Defisit Lahan Sawit di Balik Program Biodisel B35<\/a>\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kebutuhan lahan sawit baru tak terelakkan untuk memenuhi defisit CPO akibat kenaikan permintaan biodisel di program B35 tirto.id &#8211; Indonesia berupaya menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) dengan menaikkan Nationally Determined Contribution (NDC). Biodisel menjadi salah satu cara mengejar pemangkasan emisi, sembari mendorong pemakaian energi hijau.\u00a0 Pada 23 September 2022, pemerintah memperbarui komitmen NDC untuk [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":15,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[],"tags":[],"class_list":["post-11231","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry"],"acf":[],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11231","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/15"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11231"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11231\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11231"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11231"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11231"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}