{"id":11191,"date":"2023-01-09T12:35:19","date_gmt":"2023-01-09T05:35:19","guid":{"rendered":"https:\/\/tractionenergy.asia\/?p=11191"},"modified":"2023-01-09T12:35:19","modified_gmt":"2023-01-09T05:35:19","slug":"indonesia-surganya-jelantah-intip-potensinya-bagi-ekonomi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/indonesia-surganya-jelantah-intip-potensinya-bagi-ekonomi\/","title":{"rendered":"Indonesia Surganya Jelantah, Intip Potensinya Bagi Ekonomi"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_11194\" aria-describedby=\"caption-attachment-11194\" style=\"width: 359px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-11194\" src=\"https:\/\/tractionenergy.asia\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/sahitya_1-1-300x200.jpeg\" alt=\"\" width=\"359\" height=\"239\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-11194\" class=\"wp-caption-text\">Ilustrasi minyak jelantah.<\/figcaption><\/figure>\n<p><b>Jakarta, 9 Januari 2023 (SAHITYA.ID) \u2013<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Salah satu sumber energi alternatif yang populer adalah Fatty Acid Methyl Ester (FAME) atau yang lebih dikenal sebagai biodiesel. Selain minyak kelapa sawit, FAME juga dapat dibuat dari lemak hewani, minyak nabati, dan bahkan minyak bekas atau jelantah (UCO\/Used Cooking Oil).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat potensinya, UCO dapat menjadi pilihan bisnis yang cerah di masa depan. Bagaimana tidak, UCO di Indonesia menawarkan potensi besar. Menurut Riset Traction Energy Asia 2022 tentang potensi UCO sebesar 1,2 juta kilo liter per tahun dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku biodiesel.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Survei yang dilakukan kepada 438 responden rumah tangga dan 410 usaha mikro di kota besar Jawa-Bali ini menemukan potensi UCO tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku biodiesel.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari jumlah UCO tersebut, biodiesel yang dihasilkan mencapai 955 ribu kilo liter. Hal tersebut dapat mencakup 10 persen dari target pengadaan bahan bakar nabati (BBN) nasional sebesar 9,5 juta kilo liter.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak hanya itu, biodiesel berbahan baku UCO ini juga dapat menghemat anggaran pemerintah sebesar Rp4 triliun, jika 10 persen biodiesel diproduksi menggunakan UCO.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hasil survei Traction Energy Asia ini menemukan bahwa kawasan Jabodetabek merupakan daerah penghasil UCO terbesar dibandingkan tujuh kota lainnya. Adapun Bandung dan Surabaya berada di peringkat kedua dan ketiga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara Denpasar dan Surakarta menduduki posisi ke empat dan lima. Sedangkan, dua kota penghasil UCO berikutnya adalah Yogyakarta dan Semarang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berdasarkan riset tersebut, Traction menemukan satu liter minyak goreng yang digunakan oleh rumah tangga menghasilkan sekitar 0,4 liter UCO. Sementara itu, satu liter minyak goreng yang digunakan usaha mikro menghasilkan 0,32 liter jelantah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Limbah jenis ini memang memiliki berbagai manfaat. Salah satunya sebagai bahan baku komplementer untuk produksi biodiesel.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena biodiesel dapat terurai secara hayati dengan bantuan mikroorganisme lain, tidak beracun, dan dapat menggantikan bahan bakar diesel surya tanpa modifikasi lebih lanjut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak 2018, pemerintah Indonesia telah mengamanatkan penggunaan biodiesel berbasis minyak kelapa sawit dalam bahan bakar diesel. Implementasi saat ini adalah B35, mengacu pada campuran antara 35 persen FAME dan 70 persen bahan bakar diesel.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat potensinya, UCO dapat menjadi pilihan bisnis yang cerah di masa depan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada 2019, konsumsi minyak kelapa sawit nasional Indonesia mencapai 16,2 juta kilo liter (KL). Dari volume tersebut, sekitar 40% -60% UCO diproduksi, atau setara dengan 6,46-9,72 juta KL, dan hanya 3 juta KL atau 18,5% dari UCO dapat dikumpulkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari 3 juta KL UCO yang dikumpulkan, hanya 570 KL kecil yang dikonversi menjadi biodiesel, sedangkan 2,4 juta KL sisanya digunakan sebagai minyak goreng daur ulang dan diekspor.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut TNP2K Tim Nasional untuk Percepatan Pengurangan Kemiskinan dan Traction Energy Asia, jumlah konversi rendah karena mekanisme untuk mengumpulkan UCO dari restoran, hotel, dan rumah tangga tidak tersedia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tantangan lain termasuk distribusi asimetris lokasi sumber UCO dengan lokasi pabrik pengolahan biodiesel, teknologi pemrosesan yang tidak efisien (terutama pada tanaman yang dikelola oleh masyarakat), dan kualitas biodiesel yang diproses UCO perlu pengujian lebih lanjut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemrosesan UCO untuk biodiesel, terutama bila dilakukan oleh masyarakat, pada kenyataannya akan membawa banyak manfaat ekonomi, kesehatan, dan lingkungan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artikel ini telah tayang di sahitya.id dengan judul: \u201c<a href=\"https:\/\/sahitya.id\/indonesia-surganya-jelantah-intip-potensinya-bagi-ekonomi\/\">Indonesia Surganya Jelantah, Intip Potensinya Bagi Ekonomi<\/a>\u201d<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta, 9 Januari 2023 (SAHITYA.ID) \u2013 Salah satu sumber energi alternatif yang populer adalah Fatty Acid Methyl Ester (FAME) atau yang lebih dikenal sebagai biodiesel. Selain minyak kelapa sawit, FAME juga dapat dibuat dari lemak hewani, minyak nabati, dan bahkan minyak bekas atau jelantah (UCO\/Used Cooking Oil). Melihat potensinya, UCO dapat menjadi pilihan bisnis yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":15,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[],"tags":[],"class_list":["post-11191","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry"],"acf":[],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11191","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/15"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11191"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11191\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11191"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11191"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11191"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}