{"id":11032,"date":"2021-12-22T13:23:29","date_gmt":"2021-12-22T06:23:29","guid":{"rendered":"https:\/\/tractionenergy.asia\/?p=11032"},"modified":"2025-04-21T06:09:08","modified_gmt":"2025-04-21T06:09:08","slug":"mencermati-peta-jalan-bahan-bakar-nabati-pada-industri-otomotif-nasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/mencermati-peta-jalan-bahan-bakar-nabati-pada-industri-otomotif-nasional\/","title":{"rendered":"Mencermati Peta Jalan Bahan Bakar Nabati pada Industri Otomotif Nasional"},"content":{"rendered":"<p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-11033 aligncenter\" src=\"https:\/\/tractionenergy.asia\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/mongabay_1-300x112.jpeg\" alt=\"\" width=\"531\" height=\"198\" \/><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Industri otomotif Indonesia mulai mengembangkan kendaraan rendah emisi karbon (low carbon emission vehicle\/LCEV) berbasis energi alternatif pengganti BBM, seperti kendaraan listrik, kendaraan bertenaga gas (BBG) dan kendaraan dengan Bahan Bakar Nabati (BBN) seperti biodiesel dan bioethanol<\/span><\/i><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Roadmap pengembangan LCEV di Indonesia mengacu kepada peta jalan industri otomotif Indonesia (1970 -2035), yang dimulai pada 2013 dengan berbagai kebijakan dari berbagai kementerian dan lembaga pemerintah terkait, yang sayangnya terkesan tumpang tindih<\/span><\/i><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam kebijakan Prioritas Riset Nasional (PRN), BRIN mengarahkan penelitian ke riset kendaraan listrik dan BBN berbasis sawit (biodiesel). Sedangkan kebijakan Kementerian ESDM dalam Rencana Strategis (Restra) 2020-2024 mengarahkan pengembangan mandatori biodiesel untuk mengurangi impor bahan bakar dan menghemat devisa<\/span><\/i><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Selain kebijakan pengembangan kendaraan berbasis BBN untuk kendaraan roda empat dan kendaraan berat yang terkesan mengikuti tuntutan pasar global, Indonesia perlu mengembangkan kendaraan listrik untuk kendaraan pribadi dan penumpang<\/span><\/i><\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada tahun 2017, sekira bulan November saya mendatangi salah satu pameran di Balai Kartini, Jakarta Selatan, yang bertajuk \u201cIndonesia Science Expo 2017\u201d. Di sana banyak sekali ditemui inovasi-inovasi yang dilakukan para peneliti, mahasiswa teknik, dan pihak lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampai di sebuah gerai pameran, tetiba mata saya tertuju pada sebuah motor skutik. Motor ini tampil seperti motor-motor pada umumnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAda motor skutik. jangan-jangan ada sesuatu yang baru,\u201d batin saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah didekati, ternyata skutik itu dalam posisi hidup (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">idle)<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Suaranya cukup senyap, mirip motor listrik. Tapi kok ada knalpotnya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alih-alih sedang melihat dengan lebih detail, saya disambangi seseorang yang kemudian mengenalkan diri sebagai bagian dari proyek penelitian bahan bakar kendaraan yang berasal dari ekstrak ampas tahu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Betul, ampas tahu, anda tak salah baca. Kudapan yang biasa kita santap berupa kembang tahu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIni <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">nggak<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> pakai bensin, bahan bakarnya dari nabati,\u201d jelasnya spontan, yang kemudian memberikan kartu nama. Tertulis di sana, Arifin Nur, dari LIPI Bandung.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_11037\" aria-describedby=\"caption-attachment-11037\" style=\"width: 363px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\" wp-image-11037\" src=\"https:\/\/tractionenergy.asia\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/mongabay_2-1-300x201.jpeg\" alt=\"\" width=\"363\" height=\"243\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-11037\" class=\"wp-caption-text\">Arifin Nur saat memperagakan motor skutik berbahan dasar biohidrogen. Foto : Mustafa Iman<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum memberikan penjelasan lebih lanjut, Arifin mematikan mesin motor dan membuka jok. Saat itu barulah tampak hal yang membuat skutik itu berbeda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di bawah jok tetap ada bagasi kecil, namun tak terdapat tangki bensin. Tangki itu digantikan oleh dua buah tabung aluminium dengan posisi berdampingan. Di dekatnya ada alat pengukur tekanan (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">pressure gauge<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) dan panel yang berbentuk seperti keran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTabung ini isinya gas hidrogen yang dihasilkan dari ekstrak ampas tahu,\u201d ungkapnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kini sudah empat tahun berlalu, lantas seperti apa nasib inovasi dan penelitian terkait bahan bakar alternatif itu?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat saya hubungi kembali, Kamis (9\/12\/2021), Arifin mengonfirmasikan bahwa saat ini riset dan penelitian kendaraan berbahan bakar biohidrogen sudah tidak dilanjutkan lagi sejak 2018.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKarena alasan teknis dan perubahan Prioritas Riset Nasional (PRN) di lingkungan LIPI, sejak saat itu kami diarahkan untuk mendukung riset kendaraan listrik, dan tidak lagi ke arah kendaraan bermesin pembakaran dalam (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">internal combustion<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">),\u201d ungkapnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, bahan bakar hidrogen diklaim lebih cocok untuk digunakan kendaraan berat dalam upaya mengurangi tingkat polusi udara di dunia. Selain itu bahan bakar hidrogen lebih efektif dan efisien ketimbang menggunakan baterai listrik yang membutuhkan penyesuaian penggunaan karena keterbatasan jarak tempuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Demikian hasil kajian <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Institute for Essential Service Reform<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (IESR), berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Deep decarbonization of Indonesia\u2019s energy syst<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">em<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_11039\" aria-describedby=\"caption-attachment-11039\" style=\"width: 407px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\" wp-image-11039\" src=\"https:\/\/tractionenergy.asia\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/m-3-300x200.jpeg\" alt=\"\" width=\"407\" height=\"271\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-11039\" class=\"wp-caption-text\">Ilustrasi kendaraan berbahan bakar biodiesel. Foto : Shutterstock<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Peneliti spesialis bahan bakar bersih IESR, Julius Adiatma, September lalu mengatakan bahwa dalam jangka pendek hidrogen berpotensi masuk ke sektor industri, tentu sambil melihat perkembangan sisi ekonominya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi jika melihat sektor ekonomi saat ini, Bahan Bakar Nabati (BBN)\u2013utamanya biodiesel\u2013masih memiliki ceruk yang cukup besar di Indonesia, mengingat tersedianya sumber daya utamanya, sawit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><strong>Tumpang Tindih Kebijakan<\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saja di balik semua kebijakan tersebut, ada aturan-aturan dasar yang menyertainya untuk pengambilan keputusan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelumnya, mari kita runut soal peta jalan (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">roadmap<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) kendaraan rendah emisi karbon (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">low carbon emission vehicle<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\/LCEV) di Indonesia. Skema itu mengacu kepada peta jalan industri otomotif Indonesia yang yang digulirkan pemerintah pada rentang 1970 hingga 2035.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dasar hukum terkait program LCEV ini ada pada UU No.3\/2014 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">tentang Perindustrian<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, PP No.41\/2015<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> tentang Sumber Daya Industri<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, dan PP No.14\/2015 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">tentang Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> (RIPIN).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Acuan lainnya ada pada Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) No.30\/2017 tentang <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Jenis-jenis Industri Pembinaan Kementerian Perindustrian<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, dan Peraturan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) No.95\/2015<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> tentang Klasifikasi Baku Lapangan Usaha<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">(KBLU) Indonesia.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_11041\" aria-describedby=\"caption-attachment-11041\" style=\"width: 415px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-11041\" src=\"https:\/\/tractionenergy.asia\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/m-4-300x199.jpeg\" alt=\"\" width=\"415\" height=\"275\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-11041\" class=\"wp-caption-text\">Peta jalan pengembangan kendaraan rendah emisi. Sumber : Kementerian ESDM<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari skema di atas, mari kita lihat misalnya pada 2018, pemerintah dengan beberapa lembaga terkait \u2013juga universitas\u2013 tengah melakukan riset dan pengembangan kendaraan berbasis LCEV tahap II.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Riset tersebut terkait komponen utama kendaraan dengan teknologi, baterai, dan motor listrik. Tahapan ini merupakan yang ke-2 kalinya setelah periode 2013-2017 terkait kendaraan bermotor roda empat hemat energi dan harga (KBH2).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara pada rentang 2013 hingga 2035, disiapkan soal pengembangan teknologi kendaraan berbasis BBN (biodiesel dan bioethanol) dan bahan bakar gas (BBG). Namun sayangnya, pengembangan BBM bioethanol tak berjalan mulus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soal bahan baku (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">feedstock<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), riset, dan penelitian, dari bahan bakar bioethanol, Ricky Amukti dari Traction Energy Asia memberikan pandangannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSebenarnya potensi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">feedstock<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> bioetanol Indonesia cukup beragam. Sayangnya pengembangan bioetanol mandek, dikarenakan harga produksinya yang tinggi dan tidak mendapatkan dukungan subsidi maupun insentif dari pemerintah,\u201d tandasnya saat dihubungi Jumat (10\/12).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedangkan Menristek\/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro, pada April lalu menyebut <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">lima agenda utama<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> terkait EBT (energi baru terbarukan) yang dilakukan dalam PRN 2020-2024, yakni:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">BBN berbasis sawit (biodiesel),<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Biogas,<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) skala kecil,<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Baterai listrik, dan<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pengembangan teknologi nuklir.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">PRN ini mengacu pada <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Perpres No. 38\/2018<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> tentang RIRN (rencana induk riset nasional) 2017-2045, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Permenristekdikti No. 36\/2018<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> tentang Cara pengaturan PRN dan Mekanisme Pemantauan dan Evaluasi Pelaksanaan RIRN, serta <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Permenristekdikti No. 40\/2018<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> tentang PRN.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari 5 agenda utama terkait EBT yang disebutkan di atas, kemudian kita mengerucut pada proyeksi BBN yang memiliki kaitan erat baik secara kebijakan dan fungsional untuk sektor industri dan transportasi di masa depan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><strong>Mandatori BBN Biodiesel<\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut keterangan Menristek, saat ini dengan menggunakan katalis yang dikembangkan di ITB, Indonesia telah melakukan uji coba di kilang Pertamina, sehingga harapannya tak memerlukan waktu lama Indonesia bisa masuk pada skala produksi, baik untuk diesel, bensin, maupun untuk avtur (bioavtur).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201dTujuan akhirnya adalah untuk bisa kita mengurangi impor dari BBM itu sendiri,\u201d ungkap Menristek.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebijakan ini memiliki benang merah dari Rencana Strategis (Restra) 2020-2024 yang dicanangkan Kementerian ESDM. Di sana dijelaskan soal mandatori biodiesel untuk mengurangi impor bahan bakar dan menghemat devisa.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_11043\" aria-describedby=\"caption-attachment-11043\" style=\"width: 388px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-11043\" src=\"https:\/\/tractionenergy.asia\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/m-5-300x198.jpeg\" alt=\"\" width=\"388\" height=\"256\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-11043\" class=\"wp-caption-text\">Komposisi B30 dalam Restra 2020-202. Sumber : Kementerian ESDM<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam tabel di atas, dijelaskan bahwa pada 2019 produksi biodiesel B30 telah mencapai 8,4 juta kiloliter (KL). Angka itu terus meningkat, dan diharapkan akan ada lonjakan signifikan hingga 2024 (17,4 KL).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan di sana disebutkan pula bahwa potensi penghematan dengan diterapkan biodiesel B30 mencapai US$1,14 miliar, dengan asumsi berdasarkan rata-rata harga indeks pasar per bulan menyentuh US$75,47 per barel.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara data teranyar dari Kementerian ESDM pada Januari 2021, tercatat penyerapan biodiesel B30 domestik sepanjang 2020 mencapai 8,4 KL dari alokasi yang ditetapkan sebesar 9,55 juta KL.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dirjen EBTKE Kementerian ESDM Dadan Kusdiana, mengatakan bahwa tingginya sisa alokasi\u2013sebesar 1,15 KL\u2013itu disebabkan pandemi Covid-19. yang telah menekan konsumsi solar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski demikian, konsumsi dalam negeri tersebut berdampak terhadap penghematan devisa negara sebesar Rp38,31 triliun (US$2,66 miliar). Perhitungan itu menggunakan rata-rata MOPs Solar 2020 sebesar US$50 per BBL (kurs Rp14.000 per dolar AS).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun begitu, ternyata ada kekhawatiran terkait harga dan nilai keekonomian bahan bakar biodiesel ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), Master Parulian Tumanggor, Juli lalu mengatakan bahwa harga biodiesel B30 jauh di atas harga solar subsidi yang dijual di SPBU.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di pasaran, berdasarkan data dari Dirjen EBTKE Kementerian ESDM per April 2021, harga biodiesel B30 berada pada kisaran Rp10.131 per liternya. Banderol itu sedikit lebih tinggi ketimbang solar non-subsidi yang sebesar Rp9.400.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPerlu keseimbangan, kalau tidak ada biodiesel, CPO akan anjlok,\u201d tandas Parulian.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_11045\" aria-describedby=\"caption-attachment-11045\" style=\"width: 449px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-11045\" src=\"https:\/\/tractionenergy.asia\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/m-6-300x200.jpeg\" alt=\"\" width=\"449\" height=\"299\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-11045\" class=\"wp-caption-text\">Ilustrasi kendaraan berbahan bakar biomassa. Foto : shutterstock<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara Ketua Harian Aprobi, Paulus Tjakrawan, juga menyebut soal proyeksi kebutuhan yang harus segera ditetapkan dalam cetak biru (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">blueprint<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) pengembangan EBT. Tujuannya, untuk memberikan kepastian bagi investor yang mau masuk dalam bisnis tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat berbincang dengan saya, Jumat (17\/12\/2021), nilai ekonomis biodiesel ini masih menjadi salah satu sorotan, yang menurut Paulus harus memiliki daya saing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelumnya, Sekjen Dewan Energi Nasional (DEN) Djoko Siswanto, pada akhir tahun 2020 mengungkapkan bahwa Indonesia membutuhkan produksi biodiesel dalam jumlah besar untuk menekan impor bahan bakar minyak (BBM) saat konsumsi dalam negeri meningkat hingga 2040.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain bahan baku BBN yang masih berfokus pada CPO, Deputi Direktur Yayasan Madani Berkelanjutan, Giorgio Budi Indarto, juga memandang penggunaan BBN di dalam negeri masih memiliki masalah, yakni berupa harga yang mahal sehingga belum mampu bersaing dengan BBM.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, ia bilang, saat ini BBN biodiesel pada umumnya sering dijadikan penyelamat ekonomi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKetika ekonomi sedang turun, BBN naik, tapi ketika ekonomi sedang dalam kondisi biasa-biasa saja atau batu bara sedang baik, maka BBN dilupakan,\u201d katanya dalam diskusi \u2018Pangan vs Energi: Menelaah Kebijakan Bahan Bakar Nabati Indonesia\u2019, Selasa (16\/11\/2021).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentunya apa yang disampaikan Jojo\u2014sapaan akrabnya\u2014tadi menjadi penting, mengingat bagaimana kemudian Indonesia bisa mencapai kedaulatan energi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pendek kata, Jojo ingin bilang bahwa ketahanan dan kemandirian energi Indonesia bisa dicapai, namun tak tergantung dari BBM, tapi juga tak mengganggu ekosistem (lingkungan).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMadani mengajak semua pihak yang berbicara BBN, agar BBN tidak dijadikan alat untuk dikatakan sebagai solusi palsu. Madani ingin mengatakan apapun solusinya selama dapat dipikirkan secara tepat, ia mampu menjadi solusi.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKita harus mencari cara bagaimana BBN bisa bersaing dengan minyak bumi. Sekarang tanpa insentif, BBN lebih mahal, orang tidak mau membeli.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Tantangan pengembangan BBN Biodiesel<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tantangan lainnya untuk subsektor energi\u2013terkhusus EBT\u2013seperti tertuang dalam Restra 2020-2024, adalah investasi yang masih cukup mahal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal yang tak kalah penting adalah terbatasnya penguasaan teknologi EBT dan insentif untuk konservasi energi, serta tarif listrik berbasis EBT belum menarik minat investor.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_11047\" aria-describedby=\"caption-attachment-11047\" style=\"width: 432px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-11047\" src=\"https:\/\/tractionenergy.asia\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/m8-300x173.jpeg\" alt=\"\" width=\"432\" height=\"249\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-11047\" class=\"wp-caption-text\">Tantangan EBTKE yang tertuang dalam Restra 2020-2024. Sumber : Kementerian ESDM<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekretaris Gabungan Kepala Kompartemen Teknik Lingkungan dan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Abdul Rochim menyebutkan bahwa kandungan air yang ada pada biodiesel B30 memiliki potensi untuk memengaruhi keandalan mesin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKami fokus ke <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">water content<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (kandungan air pada produk biodiesel) agak ketat. Itu yang mungkin terjadi di uji coba truk,\u201d jelas Abdul pada November 2019.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walau begitu, Abdul menilai bahwa secara keseluruhan dari hasil uji jalan B20-B30, belum ditemukan kendala yang terlalu berarti. Harapannya dari pengujian-pengujian lanjutan, secara kualitas akan lebih baik hingga bisa diberlakukan pada semua kendaraan tanpa masalah.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_11049\" aria-describedby=\"caption-attachment-11049\" style=\"width: 468px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-11049 \" src=\"https:\/\/tractionenergy.asia\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/m-9-300x171.jpeg\" alt=\"\" width=\"468\" height=\"267\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-11049\" class=\"wp-caption-text\">Kerjasama PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) dengan Universitas Gadjah Mada (UGM), September 2019. Foto : TMIIN<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dua bulan sebelumnya, PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) menggandeng Universitas Gadjah Mada (UGM), untuk bersama-sama mengembangkan kemitraan pendidikan dan penelitian, khususnya di sektor otomotif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu bentuk kerja sama yang akan dilakukan adalah, melakukan pengembangan EBT. Para peneliti dari UGM bakal mengkaji teknologi pembuatan biodiesel yang menghasilkan produk dengan kualitas tinggi dan harga terjangkau. Hasilnya nanti akan disinergikan dengan para pelaku industri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Presiden Direktur TMMIN, Warih Andang Tjahjono, mengatakan bahwa industri di Indonesia dituntut untuk terus meningkatkan daya saing agar bisa memberikan kontribusi yang lebih kepada bangsa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKami yakin bahwa salah satu kunci utama untuk mencapainya adalah dengan kemitraan yang erat dengan akademisi,\u201d kata Warih kala itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai bagian dari upaya mengembangkan riset industri antara manufaktur dan akademisi, riset antara TMMIN dan UGM mencakup topik-topik yang tentu menjadi perhatian industri di masa depan, seperti EBT, lingkungan hidup, produktivitas dan efisiensi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><strong>Tuntutan Pasar Global<\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pandangan lain datang dari Munawar Chalil, jurnalis otomotif senior sekaligus pengamat kebijakan pemerintah sektor otomotif, yang mengatakan bahwa Indonesia masih dalam posisi terikat kebijakan global.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artinya, peta jalan atau kebijakan memang terus berubah dikarenakan tuntutan pasar global.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201dJika merujuk kebijakan global khususnya di sektor industri otomotif, memang sudah seharusnya Indonesia langsung lompat ke energi listrik untuk kendaraan. Jadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">roadmap<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang terus berubah ini karena memang tuntutan pasar global,\u201d jelasnya, Rabu (15\/12).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201dMungkin untuk sektor kendaraan besar seperti truk dan bus, bisa menggunakan biodiesel, atau biodieselnya juga bisa dialokasikan untuk kebutuhan kendaraan operasional pabrik, tambang, atau pembangkit listrik. Tapi jika bicara kendaraan penumpang, memang sudah seharusnya lompat ke kendaraan listrik. Kalau melihat ekosistem kendaraan listrik saat ini, Indonesia memang sudah cukup tertinggal.\u201d<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_11053\" aria-describedby=\"caption-attachment-11053\" style=\"width: 431px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-11053\" src=\"https:\/\/tractionenergy.asia\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/m10-1-300x201.jpeg\" alt=\"\" width=\"431\" height=\"289\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-11053\" class=\"wp-caption-text\">Ilustrasi. Mobil listrik di Kota London. Foto: Wikipedia\/Frankh<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gambaran lainnya, ia melihat manufaktur yang ada di Indonesia sudah bersiap menuju era mobil listrik. Pendek kata, sedikit sekali yang bermain untuk teknologi biodiesel.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam konteks ini, biodesel akan tetap menjadi bagian dari industri nasional, tapi semua kebijakan maupun regulasi tentu berpatokan pada kebutuhan industri global.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika mengerucut soal insentif, ia juga menyebut memang sudah seharusnya pemerintah memprioritaskan teknologi atau kendaraan berbasis EBT yang sesuai dengan kebutuhan global.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201dSoal kendaraan listrik, kita juga masih punya pekerjaan rumah besar, itu nanti baterainya mau dikemanakan? Beda dengan China, AS, dan Eropa, yang memang sudah cukup matang infrastrukturnya.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski demikian, ia menekankan bahwa kebijakan terkait EBT harus menjadi kebijakan politik yang absolut dan mengikat. Harus konkret dan dijalankan oleh semua kementerian, sehingga peta jalan bisa dipahami oleh lintas sektoral, baik oleh pelaku industri, investor, produsen, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">aftermarket<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, dan tentunya masyarakat secara umum.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal terakhir dan yang paling penting soal kebijakan EBT tadi, sambungnya, adalah memperhitungkan soal dampak ekonominya bagi masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u2018\u2019Karena ketika kita bicara soal peta jalan dan kebijakan, itu sudah menyangkut hajat hidup orang banyak,\u201d pungkasnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini tentu sejalan dengan apa yang disampaikan Jojo bahwa konsep BBN sebagai Kebijakan Energi Nasional (KEN) yang diinisiasi pada 2006 menyoroti soal pengentasan kemiskinan dan pengembangan SDM.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artikel ini telah tayang di mongabay.co.id dengan judul: \u201c<a href=\"https:\/\/www.mongabay.co.id\/2021\/12\/22\/mencermati-peta-jalan-bahan-bakar-nabati-di-industri-otomotif-nasional\/\">Mencermati Peta Jalan Bahan Bakar Nabati pada Industri Otomotif Nasional<\/a>\u201d<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Industri otomotif Indonesia mulai mengembangkan kendaraan rendah emisi karbon (low carbon emission vehicle\/LCEV) berbasis energi alternatif pengganti BBM, seperti kendaraan listrik, kendaraan bertenaga gas (BBG) dan kendaraan dengan Bahan Bakar Nabati (BBN) seperti biodiesel dan bioethanol Roadmap pengembangan LCEV di Indonesia mengacu kepada peta jalan industri otomotif Indonesia (1970 -2035), yang dimulai pada 2013 dengan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":15,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[187],"tags":[],"class_list":["post-11032","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized-id"],"acf":[],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11032","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/15"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11032"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11032\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":12784,"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11032\/revisions\/12784"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11032"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11032"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11032"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}