{"id":10979,"date":"2021-09-13T14:14:49","date_gmt":"2021-09-13T07:14:49","guid":{"rendered":"https:\/\/tractionenergy.asia\/?p=10979"},"modified":"2021-09-13T14:14:49","modified_gmt":"2021-09-13T07:14:49","slug":"lpem-feb-ui-biodiesel-bisa-gerus-penerimaan-devisa-dari-ekspor-sawit","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/lpem-feb-ui-biodiesel-bisa-gerus-penerimaan-devisa-dari-ekspor-sawit\/","title":{"rendered":"LPEM FEB UI: Biodiesel Bisa Gerus Penerimaan Devisa dari Ekspor Sawit"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_10980\" aria-describedby=\"caption-attachment-10980\" style=\"width: 417px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-10980\" src=\"https:\/\/tractionenergy.asia\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/Kumparan_1-300x169.jpeg\" alt=\"\" width=\"417\" height=\"235\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-10980\" class=\"wp-caption-text\">Pengisian bahan bakar Biodiesel B30 pada mobil truk di Kementerian ESDM. Foto: Jamal Ramadhan\/kumparan<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemerintah terus mendorong penerapan<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> biodiesel<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> sebagai bahan bakar pengganti BBM. Selain menghemat ongkos impor BBM, biodiesel juga diyakini lebih ramah lingkungan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat ini, penerapan biodiesel berada di tahap 30 persen atau pencampuran minyak sawit 30 persen ke BBM solar menjadi biodiesel 30 persen atau B30. Namun, kebijakan ini terus berpotensi menggerus penerimaan devisa negara dari ekspor sawit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, Fakultas Ekonomi dan Bisnis<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> Universitas Indonesia<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> (LPEM FEB UI) dalam studinya menemukan program ini memiliki risiko jika kebijakan tidak direncanakan dan dilaksanakan dengan tepat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Studi yang dirilis oleh LPEM FEB UI bertajuk \u201cRisiko Kebijakan Biodiesel Dari Sudut Pandang Indikator Makroekonomi dan Lingkungan\u201d membahas bagaimana kebijakan biodiesel yang semakin progresif berpotensi menimbulkan tekanan terhadap neraca perdagangan, besaran subsidi atau insentif untuk industri biodiesel dan risiko ekspansi lahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam studi ini disebutkan semakin besar tingkat campuran minyak<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> sawit<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> dalam biodiesel memang akan berpotensi menghemat impor solar, tetapi di sisi lain akan menurunkan potensi penerimaan dari ekspor minyak kelapa sawit. Dalam kondisi harga minyak kelapa sawit tinggi relatif terhadap solar, tentunya akan membuat dampak yang kurang baik terhadap neraca perdagangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari sisi fiskal, kebijakan ini membawa risiko yang semakin besar seiring dengan target campuran dan produksi biodiesel. Hal ini karena insentif yang diberikan kepada industri biodiesel tergantung dari selisih harga minyak sawit untuk biodiesel dengan harga solar, dan adakalanya selisih harga tersebut sangat signifikan, sehingga membuat besaran insentif membengkak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari sisi lingkungan, rencana pemerintah untuk meningkatkan campuran minyak sawit dalam biodiesel membawa risiko ekspansi lahan sawit untuk memenuhi kebutuhan bahan baku biodiesel domestik. Dengan asumsi tren ekspor tetap, tentunya peningkatan campuran dan volume produksi biodiesel akan meningkatkan permintaan minyak sawit domestik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Melalui studi ini, kami hanya ingin mengingatkan pemerintah bahwa kebijakan biodiesel harus memiliki target yang terukur, sehingga tidak berdampak buruk pada lingkungan. Saat biodiesel mulai digunakan secara luas, maka kebutuhan terhadap minyak sawit untuk biodiesel akan meningkat,&#8221; Kepala Tim Kajian Ekonomi Lingkungan LPEM FEB UI Alin Halimatussadiah dikutip Senin (13\/9).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alin menjelaskan, studi ini mengestimasi dampak kebijakan biodiesel menggunakan tiga skenario. Skenario pertama mengasumsikan pemerintah menerapkan bauran sebesar B20, skenario kedua B30 dan skenario ketiga<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">B50. Skenario 1 sampai dengan 3 memperlihatkan kebijakan biodiesel yang semakin progresif, yang terlihat dari tingkat campuran yang semakin besar. Proyeksi dampak skenario dibuat sampai dengan tahun 2025.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari hasil analisis estimasi dampak ketiga skenario didapatkan beberapa implikasi sebagai berikut:<\/span><\/p>\n<ol>\n<li><strong> RI Berpotensi Kehilangan Devisa dari Ekspor CPO Rp 782 Triliun<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<figure id=\"attachment_10984\" aria-describedby=\"caption-attachment-10984\" style=\"width: 350px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\" wp-image-10984\" src=\"https:\/\/tractionenergy.asia\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/Kumparan_2-1-300x169.jpeg\" alt=\"\" width=\"350\" height=\"197\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-10984\" class=\"wp-caption-text\">Pekerja membongkar buah kelapa sawit di unit pemrosesan minyak kelapa sawit milik negara. Foto: REUTERS \/ Tarmizy Harva<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kelapa sawit merupakan komoditas ekspor unggulan Indonesia. Pada bulan Juli 2020, data Buletin Statistik Perdagangan Internasional Ekspor Indonesia yang diterbitkan oleh BPS menunjukkan bahwa nilai ekspor CPO sepanjang Januari-Juli 2020 mencapai USD 2,7 miliar (setara dengan Rp 38,4 triliun).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara, untuk produk turunannya mencapai USD 6,2 miliar (setara dengan Rp 88,3 triliun).1 Kebijakan biodiesel yang agresif mendorong penggunaan CPO yang semakin banyak di dalam negeri, sehingga dapat berpotensi menurunkan nilai ekspor CPO.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berdasarkan proyeksi perhitungan LPEM FEB UI, akumulasi potensi kehilangan ekspor<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> CPO<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> terendah mencapai Rp 782 triliun pada periode 2020\u20142025 yang berasal dari pelaksanaan kebijakan B20 dan untuk proyeksi tertinggi terjadi ketika kebijakan B50 diterapkan, mencapai Rp 1.825 triliun pada periode yang sama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPotensi kehilangan ekspor ini selain akan mengganggu kinerja ekspor kelapa sawit, juga menjadi faktor yang harus diperhitungkan dalam melihat kembali jumlah penghematan bersih solar yang ditargetkan pemerintah,\u201d tambah Alin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat kebijakan B20 ini pertama kali diluncurkan, pemerintah memperkirakan penghematan impor solar pada neraca berjalan akan mencapai Rp 79,2 triliun. Akan tetapi, penghematan impor solar yang dilaporkan pada tahun 2019 hanya mencapai Rp 48,9 triliun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, pemerintah memperkirakan penghematan impor solar untuk neraca berjalan di tahun 2020 bisa mencapai Rp 112,8 triliun akibat implementasi B30, namun perkiraan tersebut belum memperhitungkan penurunan potensi ekspor kelapa sawit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari simulasi perhitungan berdasarkan skenario implementasi B30, akumulasi penghematan bersih(netto) dari neraca berjalan yang dapat dicapai pada tahun 2020\u20142025 adalah sebesar Rp 44 triliun, yang berarti penghematan proyeksi bersihnya lebih rendah dari perkiraan pemerintah (Rp 112,8 triliun).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Penghematan impor solar yang dinarasikan pemerintah lebih besar dibandingkan dengan hasil proyeksi perhitungan yang kami lakukan pada periode yang sama. Kami mempertimbangkan perhitungan faktor hilangnya potensi ekspor kelapa sawit yang bisa menjadi devisa negara. Menurut kami, faktor ini perlu diperhitungkan pemerintah karena adanya proyeksi keterbatasan pasokan kelapa sawit untuk keperluan domestik,&#8221; jelas Alin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alin menambahkan, dampak kebijakan biodiesel dalam neraca perdagangan juga sangat ditentukan oleh harga dari CPO dan solar di pasar dunia. Apabila perbedaan harga CPO dengan harga solar semakin jauh, maka nilai ekonomi dari potensi kehilangan ekspor akan semakin tinggi dibandingkan penghematan impor solar. Akibatnya, neraca perdagangan tidak menjadi lebih baik, seperti yang diharapkan sebelumnya,\u201d tambah Alin.<\/span><\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li><strong> Potensi Meningkatnya Beban Fiskal<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pengembangan biodiesel saat ini masih tergantung pada insentif yang diberikan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) untuk industri biodiesel. Insentif yang diberikan akan membengkak jika selisih harga FAME dari sawit sebagai input biodiesel lebih tinggi dari harga solar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Insentif akan lebih besar lagi jika tingkat bauran FAME dalam biodiesel meningkat. Hal ini akan membawa dampak pada beban anggaran BPDP-KS.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama ini BPDP-KS mendapatkan dana dari pungutan ekspor CPO. Terdapat beberapa kali perubahan kebijakan pungutan ekspor, dan ada masa di mana BPDP-KS tidak mendapatkan penerimaan karena ketika harga CPO di bawah harga tertentu, tidak dikenai pungutan ekspor.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini tentunya menjadi risiko keuangan tersendiri bagi BPDP-KS, di mana penerimaan sangat tergantung dari harga ekspor, sedangkan pengeluaran tergantung dari perbedaan harga CPO dengan harga solar. Dengan risiko<\/span><a href=\"https:\/\/kumparan.com\/topic\/ekspor\"><span style=\"font-weight: 400;\"> ekspor<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> yang dapat menurun karena terserap oleh kebutuhan domestik, serta tingkat bauran dan volume produksi yang cenderung meningkat, maka risiko keuangan BPDP-KS akan semakin tertekan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Jika anggaran BPDPKS tidak mencukupi untuk memenuhi insentif FAME, maka pengadaannya berpotensi membebani fiskal negara,&#8221; tambahnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada tahun 2020 Pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 2,78 triliun dari APBN untuk BPDP-KS, yang menurut BPDP-KS akan digunakan untuk mendukung pengembangan sawit berkelanjutan. Ini merupakan kali pertama pemerintah mengalokasikan anggaran langsung ke BPDP-KS, yang bertepatan dengan tahun pandemi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika saja keuangan BPDP-KS cukup tangguh, menurut Alin, anggaran pemerintah tidak perlu terbebani, karena program sawit berkelanjutan sejatinya merupakan salah satu program BPDP-KS.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_10986\" aria-describedby=\"caption-attachment-10986\" style=\"width: 379px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\" wp-image-10986\" src=\"https:\/\/tractionenergy.asia\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/Kumparan_3-300x169.jpeg\" alt=\"\" width=\"379\" height=\"214\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-10986\" class=\"wp-caption-text\">Pekerja membongkar muat Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit ke atas truk. Foto: ANTARA FOTO\/ Akbar Tado<\/figcaption><\/figure>\n<ol start=\"3\">\n<li><strong> Risiko Ekspansi Lahan Sawit untuk Penuhi Kebutuhan Minyak Sawit Biodiesel<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semakin tinggi bauran FAME dalam biodiesel, maka semakin tinggi pula permintaan akan minyak sawit untuk biodiesel. Berdasarkan proyeksi dari studi, kebutuhan untuk implementasi skenario B50 berpotensi menyebabkan terjadinya pembukaan lahan sawit baru seluas 9,29 juta hektar secara akumulasi hingga 2025. Angka ini setara dengan 70 persen dari luas lahan sawit produktif 2019.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Kebutuhan minyak sawit untuk biodiesel dikhawatirkan akan mendorong ekspansi lahan ke kawasan dengan nilai karbon yang tinggi atau high conservation value area (HCVA). Ini tentunya perlu dicegah melalui aturan yang kuat. Sebetulnya sudah ada sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO), tetapi perlu dilihat lagi penerapannya seperti apa, belum lagi moratorium sawit yang belum ada kepastian akan diperpanjang atau tidak,&#8221; kata Alin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Potensi bahaya yang muncul jika CPO menjadi satu-satunya bahan baku biodiesel. Engagement Unit Manager Traction Energy Asia Ricky Amukti menyoroti bahaya yang mengancam lingkungan jika CPO dijadikan satu-satunya bahan baku biodiesel.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau biodiesel Indonesia masih<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> single feedstock<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, ini akan sangat berbahaya bagi lingkungan karena ada kemungkinan terjadinya alih fungsi lahan,\u201d katanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ricky mengatakan, tata kelola perkebunan kelapa sawit di Indonesia juga belum sepenuhnya memenuhi kaidah keberlangsungan lingkungan disokong dari lemahnya transparansi, keterlacakan dan rekam jejak beragam persoalan yang membelenggu baik dari sisi efektivitas terhadap pengurangan emisi, pembukaan lahan, hingga ketenagakerjaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Penggunaan biodiesel memang mengurangi emisi CO2. Namun, jika dihitung dari analisis daur hidup (life cycle) dari sektor hulu (perkebunan sawit) hingga hilir (konsumsi biodiesel), alih fungsi lahan akan menyebabkan emisi CO2 yang jauh lebih tinggi,\u201d kata Ricky.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk diketahui, dari perhitungan yang pernah dilakukan Traction menunjukkan, jika emisi diesel solar fosil itu sebesar 3,14 kg CO2 <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">equivalent<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> per liter, maka alih fungsi dari hutan primer akan menyebabkan emisi hingga 68,61kg\/CO2 <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">equivalent<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> per liter atau lebih dari 20 kali lipat dari emisi diesel soal fosil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ricky menekankan, pemerintah perlu melihat alternatif bahan baku atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">feedstock <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">lain selain sawit, agar ancaman alih fungsi lahan tidak terjadi. Salah satu yang menjadi rekomendasinya adalah pemanfaatan minyak jelantah alias used cooking oil (UCO).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pihaknya mengatakan, pemanfaatan UCO memiliki peluang untuk menekan emisi yang jauh lebih rendah hingga kisaran 80-90 persen dibandingkan energi yang dihasilkan dari bahan fosil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artikel ini telah tayang di kumparan.com dengan judul: <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u201c<a href=\"https:\/\/kumparan.com\/kumparanbisnis\/lpem-feb-ui-biodiesel-bisa-gerus-penerimaan-devisa-dari-ekspor-sawit-1wWSM0PjaII\/full\">LPEM FEB UI: Biodiesel Bisa Gerus Penerimaan Devisa dari Ekspor Sawit<\/a>\u201d<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pemerintah terus mendorong penerapan biodiesel sebagai bahan bakar pengganti BBM. Selain menghemat ongkos impor BBM, biodiesel juga diyakini lebih ramah lingkungan. Saat ini, penerapan biodiesel berada di tahap 30 persen atau pencampuran minyak sawit 30 persen ke BBM solar menjadi biodiesel 30 persen atau B30. Namun, kebijakan ini terus berpotensi menggerus penerimaan devisa negara dari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":15,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[],"tags":[],"class_list":["post-10979","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry"],"acf":[],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10979","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/15"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10979"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10979\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10979"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10979"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10979"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}