{"id":10879,"date":"2021-07-11T10:38:20","date_gmt":"2021-07-11T03:38:20","guid":{"rendered":"https:\/\/tractionenergy.asia\/?p=10879"},"modified":"2021-07-11T10:38:20","modified_gmt":"2021-07-11T03:38:20","slug":"10879","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/10879\/","title":{"rendered":"Para Pihak Ingatkan Lagi Program Biodiesel Rawan Ekspansi Lahan Sawit"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_10886\" aria-describedby=\"caption-attachment-10886\" style=\"width: 430px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-10886\" src=\"https:\/\/tractionenergy.asia\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/Panen-sawit-Foto-Yitno-Suprapto-Mongabay-Indonesia-300x111.jpg\" alt=\"\" width=\"430\" height=\"159\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-10886\" class=\"wp-caption-text\">Panen sawit. Foto: Yitno Suprapto\/ Mongabay Indonesia<\/figcaption><\/figure>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kajian Institute for Essential Services Reform (IESR) bulan lalu juga menyoroti potensi ekspansi lahan dengan program biodiesel yang akan berdampak pada lingkungan dan sosial.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0Ricky Amukti, Manajer Riset Traction Energy Asia, beberapa kali mengingatkan soal pembukaan lahan kebun sawit yang menimbulkan emisi selain perambahan hutan itu sendiri.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0Tatang Hernas Soerawidjaja, Ketua Ikatan Ahli Bioenergi Indonesia dan Dewan Penasehat Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), menilai, kebijakan pemerintah soal biodiesel reaktif menghadapi kebijakan Uni Eropa yang menolak sawit karena dinilai tak berkelanjutan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0Institute for Essential Services Reform menyarankan, antara lain, pemerintah mengembangkan strategi jangka panjang peran biofuel dalam transisi energi. Dengan meningkatkan target campuran setiap tahun begitu agresif, berisiko jadi aset terdampar (stranded asset). Pemerintah perlu membuat kriteria jelas dan transparan untuk melihat dampak ekonomi, sosial dan lingkungan dari program biofuel. Program biofuel mestinya menguntungkan sektor-sektor ini.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat menerima kunjungan Alok Sharma, Presiden Conference of Parties 26 (COP 26) di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) akhir Mei lalu, Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan beberapa strategi kementerian ini mendukung komitmen Indonesia mencapai target <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">nationally determined contribution <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(NDC). Antara lain, mandatori biodiesel fuel (biofuel), <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">co-firing<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> PLTU, pemanfaatan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">refuse derived fuel <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(RDF) dan penggantian pembangkit listrik tenaga diesel dengan energi terbarukan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Strategi pertama, mandatori biodiesel, menjadi sorotan beberapa lembaga karena rawan memicu ekspansi lahan sawit hanya untuk memenuhi kebutuhan biodiesel yang terus meningkat setiap tahun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Malang, misal, Bupati Malang Muhammad Sanusi beberapa waktu lalu menyampaikan rencana investasi pabrik biofuel yang membutuhkan kebun sawit seluas 50 hektar. Sejak 2012, Malang sudah punya 200 hektar sawit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ricky Amukti, Manajer Riset Traction Energy Asia, beberapa kali mengingatkan soal pembukaan lahan kebun sawit yang menimbulkan emisi selain perambahan hutan itu sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara operasional biodiesel dari sawit juga mengemisi karena penggunaan bahan-bahan kimia di pabrik dan limbah cair yang mengandung gas metana lebih berbahaya dari karbondioksida. Pabrik sawit yang gunakan gas metana, katanya, menimbulkan emisi berkali lipat dari emisi biodiesel.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat sawit panen, distribusi hasil panen juga menimbulkan emisi lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dia bilang, peta jalan biodiesel masih terbatas pada kuota campuran. Kalau ini terus dinaikkan dari saat ini B30 jadi B100, berpotensi memicu deforestasi dan kontradiksi karena jadi tak ramah lingkungan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Argumen mengurangi impor bahan bakar juga dia nilai tak efektif, dengan kata lain saat impor berkurang pemerintah tetap menanggung subsidi untuk biodiesel.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau tetap akan mengembangkan biodiesel, Ricky usul libatkan petani swadaya dalam rantai pasok pengembangan biodiesel.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPetani yang diberi insentif agar produktivitas meningkat dan risiko pembukaan lahan baru bisa ditekan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kajian Institute for Essential Services Reform (IESR) bulan lalu juga menyoroti potensi ekspansi lahan dengan program biodiesel yang akan berdampak pada lingkungan dan sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Risiko akan kecil kalau ada kebijakan mengurangi ekspor CPO untuk keperluan dalam negeri. Faktanya, ekspor terus meningkat, sementara produktivitas hanya naik 0,34% per tahun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKarena itu, peningkatan permintaan biofuel seperti yang direncanakan pemerintah diprediksi berakhir dengan penambahan 4-6 juta hektar lahan kebun sawit pada 2024,\u201d kata Julius Christian, peneliti IESR.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Data KESDM, penggunaan bahan bakar cair di Indonesia sebagian besar untuk transportasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSepuluh tahun terakhir meningkat dari 50 ke 70% lebih,\u201d katanya.<\/span><\/p>\n<div class=\"mceTemp\"><\/div>\n<figure id=\"attachment_10905\" aria-describedby=\"caption-attachment-10905\" style=\"width: 379px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\" wp-image-10905\" src=\"https:\/\/tractionenergy.asia\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/Desa-Tumpakrejo-1-300x199.jpg\" alt=\"\" width=\"379\" height=\"251\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-10905\" class=\"wp-caption-text\">Kebun sawit di Desa Tumpakrejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang, Jawa Timur yang dibiarkan petani karena harga tandan sawit anjlok. Foto : Eko Widianto\/Mongabay Indonesia.<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang ada potensi biofuel menggantikan bahan bakar untuk industri, pertanian atau pertambangan karena masih gunakan bahan bakar minyak. Menurut IESR, tren penggunaan menurun dari tahun ke tahun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, kalau aktivitas industri mengarah pada pembangunan rendah karbon, penggunaan bahan bakar juga akan menurun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAda kemungkinan permintaan bahan bakar cair tak akan meningkat signifikan, dan tak jauh beda dengan kapasitas kilang minyak yang ada sekarang.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bicara produksi biofuel, catatan Institute for Essential Services Reform (IESR), memperlihatkan, secara global terus meningkat. Pada 2017, produksi global biofuel 138 juta liter, naik dari hanya 18 juta liter pada 2000. Sebagian besar biofuel dari bahan (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">feedstock<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) yang berkompetisi dengan pangan seperti bioethanol dari tebu, jagung dan biodiesel dari sawit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fabby Tumiwa, Direktur Eksekutif IESR, mengatakan, bahan-bahan ini tak bisa sepenuhnya menggantikan bahan bakar minyak karena perbedaan karakteristik. Persaingannya, dengan bahan pangan menimbulkan pertanyaan dari sisi keberlanjutan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Indonesia, sejak inisiasi biodiesel pada 2006, hanya pada 2019 penggunaan mencapai target. Selama enam tahun terakhir, anggaran pendukung biodiesel mencapai Rp58,2 miliar. Mulanya subsidi hanya untuk <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">public service obligation<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (PSO), pada 2018 non PSO juga terima.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Subsidi ini mendapat kritik dari KPK karena dinilai tak sejalan dengan UU Perkebunan. Saat pandemi, anggaran Badan Pengelola Dana Perkebunan Sawit defisit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemerintah lantas memberikan subsidi pemulihan ekonomi nasional (PEN) sampai Rp2,78 triliun. Awal tahun ini, seiring kenaikan harga minyak sawit mentah (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">crude palm oil<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) dan minyak yang masih rendah muncul perhitungan subsidi Rp30 triliun lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIni menunjukkan, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">feed stock<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> seperti CPO akan menjadi isu, berkaitan dengan subsidinya,\u201d kata Fabby, beberapa waktu lalu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan kata lain, kesuksesan program biodiesel saat ini karena banyak insentif dan subsidi yang diterima BPDPKS. Ada subsidi untuk penggunaan biodiesel, insentif fiskal untuk industri biofuel dan insentif bagi penghasil sawit dengan perkiraan mencapai Rp19,6 miliar per tahun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantas bagaimana masa depan biofuel? Bagaimana menghindari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">stranded asset<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> karena program biofuel?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">IESR menyarankan, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">pertama<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, pemerintah mengembangkan strategi jangka panjang peran biofuel dalam transisi energi. Dengan meningkatkan target campuran setiap tahun begitu agresif, kata Julius, berisiko jadi aset terdampar (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">stranded asset<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">).<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, pemerintah perlu membuat kriteria jelas dan transparan untuk melihat dampak ekonomi, sosial dan lingkungan dari program biofuel. Program biofuel mestinya menguntungkan sektor-sektor ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemerintah bisa mengadopsi kriteria pada Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) dan menambah kriteria lain untuk memastikan<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> feedstock<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan industri berkelanjutan.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, diversifikasi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">feedstock<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang akan menguntungkan lingkungan, tak mengancam lahan, dan lebih berkelanjutan secara ekonomi. Selain itu, perlu mempertimbangkan gunakan tanaman bukan pangan seperti nyamplung, kemiri, sunan, dan malapari dan perlu kajian lanjutan soal kelayakan.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Keempat<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, menguatkan dukungan kebijakan insentif untuk pengembangan biofuel dari generasi kedua atau turunannya. Skema insentif ini, juga bisa dikembangkan dan berkelanjutan misal dengan memberikan insentif bagi petani swadaya agar bisa meningkatkan produktivitas mereka.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_10888\" aria-describedby=\"caption-attachment-10888\" style=\"width: 363px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\" wp-image-10888\" src=\"https:\/\/tractionenergy.asia\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/Sebelum-Paragraf-Kebijakan-Reaktif-300x200.jpg\" alt=\"\" width=\"363\" height=\"242\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-10888\" class=\"wp-caption-text\">Ekspansi pembukaan hutan untuk kebun sawit merupakan masalah besar yang terjadi di hutan Singkil-Bengkung. Foto: Nanang Sujana\/RAN<\/figcaption><\/figure>\n<p><b>Kebijakan reaktif?<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Djoko Siswanto, Sekjen Dewan Energi Nasional (DEN) mengatakan, tujuan utama dari pengembangan biodiesel mulanya untuk mengurangi impor bahan bakar solar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDengan B30 sudah cukup untuk mengurangi impor,\u201d katanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), target bauran energi 23% pada 2025 memang salah satu mengandalkan biodiesel. Karena itu, memang dibuat sejumlah regulasi dan insentif pendukung baik lewat APBN dan dana ekspor CPO yang dikumpulkan BPDPKS.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat ini, kata Djoko, pemerintah membangun pabrik katalis untuk katalisator biofuel agar bisa meproduksi bahan bakar dari sawit. Rencana ini, menghadapi tantangan harga jual produk yang masih lebih mahal dari bahan bakar fosil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau skala besar bisa,\u201d katanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tatang Hernas Soerawidjaja, Ketua Ikatan Ahli Bioenergi Indonesia dan Dewan Penasehat Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), menilai, kebijakan pemerintah soal biodiesel reaktif menghadapi kebijakan Uni Eropa yang menolak sawit karena dinilai tak berkelanjutan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTerus menerus bergantung pada sawit adalah indikator ketidakberlanjutan,\u201d katanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut dia perlu mempertimbangkan efektivitas biaya dalam mengembangan biodiesel. Menanam sawit yang kelak hanya untuk keperluan energi juga bukan pilihan bijak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Andriah Feby Misnah, Direktur Bioenergi KESDM, mengatakan, pada 2020 target produksi 8 juta kilo liter biofuel sudah terpenuhi. Penggunaan mencapai 8,4 juta kilo liter. Dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">grand strategy national <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(GSN), pemerintah menyesuaikan target berbeda dengan RUEN.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau pada RUEN, target produksi 13,5 juta kiloliter, GSN menurunkan 15% menjadi sekitar 11,6 juta kiloliter dengan pertimbangan ada intervensi kebijakan mobil listrik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat ini, kata Feby, kebutuhan solar mencapai 33 juta kiloliter per tahun, penggunaan bensin untuk transportasi masih 50% impor.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau mau mengejar ketahanan energi dengan produksi bensin harus produksi 15 juta kiloliter,\u201d katanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, penggunaan kendaraan listrik untuk transportasi juga dilakukan untuk mengurangi impor bensin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Target mobil listrik, katanya, menyasar pengguna bensin karena itu biodiesel masih punya peluang cukup besar beberapa tahun ke depan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPeluang biofuel masih cukup besar meski kita juga kombinasi dengan teknologi lain,\u201d katanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teknologi lain yang dimaksud Feby adalah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">green diesel<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">green gasoline<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang target pada 2040 dalam GSN mencapai 2 juta kiloliter.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_10900\" aria-describedby=\"caption-attachment-10900\" style=\"width: 369px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-10900\" src=\"https:\/\/tractionenergy.asia\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/Longsor-di-Area-Perkebunan-Sawit-di-Bintan-300x199.jpg\" alt=\"\" width=\"369\" height=\"245\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-10900\" class=\"wp-caption-text\">Longsor di area perkebunan sawit di Bintan. Foto: Yogi Eka Sahputra\/ Mongabay Indonesia<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut Feby, pengembangan biodiesel memang dengan pertimbangan keekonomian. Biodiesel, dinilai lebih ekonomis daripada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">green diesel<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Biodiesel, katanya, sudah ada pendanaan untuk pemberian insentif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun dia juga membenarkan kalau saat ini belum ada indikator biodiesel berkelanjutan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAgak sulit. Verifikasi data butuh biaya cukup mahal.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun begitu, katanya, pemerintah tetap membahas aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan untuk masuk dalam Indonesia Biofuel Sustainable Indicators (IBSI) yang rencana terbit tahun depan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKita coba berlakukan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">voluntary based<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, mana yang bisa jalan dan bisa dipenuhi industri. Jangan sampai indikator keberlanjutan tak bisa diterapkan, produksi biodiesel tak sesuai volume yang dibutuhkan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artikel ini telah tayang di mongabay.co.id dengan judul: \u201c<a href=\"https:\/\/www.mongabay.co.id\/2021\/07\/11\/para-pihak-ingatkan-lagi-program-biodiesel-rawan-ekspansi-lahan-sawit\/\">Para Pihak Ingatkan Lagi Program Biodiesel Rawan Ekspansi Lahan Sawit<\/a>\u201d<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kajian Institute for Essential Services Reform (IESR) bulan lalu juga menyoroti potensi ekspansi lahan dengan program biodiesel yang akan berdampak pada lingkungan dan sosial. \u00a0Ricky Amukti, Manajer Riset Traction Energy Asia, beberapa kali mengingatkan soal pembukaan lahan kebun sawit yang menimbulkan emisi selain perambahan hutan itu sendiri. \u00a0Tatang Hernas Soerawidjaja, Ketua Ikatan Ahli Bioenergi Indonesia [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":15,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[],"tags":[],"class_list":["post-10879","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry"],"acf":[],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10879","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/15"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10879"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10879\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10879"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10879"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www1.tractionenergy.asia\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10879"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}